Monthly Archives: November 2010

Harimau Rawa Juara Liga Futsal Indonesia 2010

Tim Harimau Rawa Riau akhirnya menjuarai Liga Futsal Indonesia Ke-4 tahun 2010 setelah mengalahkan Electric PLN Jakarta, 13-12, dalam adu penalti yang menegangkan pada babak final, Rabu (24/11), yang berlangsung hingga tengah malam. Tim asuhan pelatih Ricardo ini pun berhak mengantongi hadiah Rp 60 juta, sedangkan Electric PLN mendapatkan Rp 40 juta.

Juara ketiga direbut tim Pelindo II Jakarta setelah mengempaskan tim Futsal Kota Bandung, 5-2, juga pada Rabu malam. Kedua tim memperoleh hadiah Rp 30 juta untuk juara ketiga dan Rp 20 juta untuk juara keempat.

Babak final four ini mempertemukan empat tim yang sama- sama kuat dan ulet. Tidak ada tim yang menang mudah atas tim lainnya sejak duel sengit hari Senin dan Selasa lalu. Babak final antara Harimau Rawa dan juara bertahan Electric PLN membuktikan bahwa kedua tim ini memang layak menjadi dua terbaik di liga ini.

Kedua tim bermain hati-hati selama babak pertama hingga kedudukan berakhir 0-0. Pada babak kedua, kedua tim dengan pola permainan menyerang ini mulai berusaha membobol pertahanan lawan, yang akhirnya membuahkan skor, menjadi 2-2 hingga 20 menit babak kedua usai.

Gol Harimau Rawa disarangkan Stevanus Kelen dan Sandy, sedangkan gol Electric PLN dibikin Deny Handoyo dan F Maulid Badriana. Dua gol Elec- tric PLN ini cukup spektakuler. Deny menggetarkan gawang yang dijaga kiper Agus Salam pada menit ke-38, hanya satu menit setelah Sandy membuahkan gol.

Babak perpanjangan waktu 2 x 5 menit pun digelar dan lagi-lagi kedua tim sama-sama menyerang sekaligus sama-sama kuat bertahan. Keduanya pun sama- sama membobol jaring lawan masing-masing dua gol. Adu penalti menjadi ajang penentuan terakhir.

Jepang Cetak Sejarah Raih Medali Emas

Jepang untuk pertama kali merebut emas cabang sepak bola Asian Games setelah memukul Uni Emirat Arab 1-0 (0-0) pada final di Stadion Tianhe, Guangzhou, Kamis (25/11). Korea Selatan, yang kandas di semifinal, mendapat perunggu berkat kemenangan atas Iran, 4-3 (0-2).

Jepang, yang menurunkan pemain rata-rata berusia 21 tahun, sering tertekan di babak kedua. Namun, tim asuhan Pelatih Takashi Sekizuka itu mengubah situasi tertekan menjadi kemenangan lewat gol bek kanan Yuki Saneto pada menit ke-74.

Berawal tendangan bebas dari sisi kiri, bola melambung dan jatuh di kaki Saneto yang berdiri bebas di sisi kiri pertahanan Uni Emirat Arab (UEA). Tanpa kesulitan, ia menceploskan gol ke gawang Ali Khaseif Housani.

Lini pertahanan UEA sebenarnya sangat kokoh berkat kedisiplinan empat bek mereka yang kerap berdiri sejajar. Mereka hanya ceroboh dengan tidak mengawal Saneto yang menyerang.

Jepang hampir saja menggandakan skor kemenangan pada injury time saat kiper Housani meninggalkan gawang dan ikut maju hingga kotak penalti Jepang. Sukses Jepang merebut emas sepak bola Asian Games (AG) itu merupakan sejarah baru sepak bola ”Negeri Matahari Terbit”.

Baru kali ini mereka menjuarai sepak bola Asian Games. Pada AG 2002 Busan (Korea Selatan), Jepang lolos ke final, tetapi kalah 1-2 dari Iran, yang sudah mereka balas dengan skor serupa di semifinal, Selasa lalu.

Sukses Jepang merebut emas di Guangzhou layak dipuji bukan hanya atas catatan penampilan mereka yang selalu menang dalam tujuh laga dan hanya kebobolan satu gol. Namun, mereka pantas dipuji atas keputusan menurunkan pemain yang rata-rata berusia 21 tahun atau dua tahun di bawah batas tampil di AG.

Empat pemain starter mereka di final bahkan berasal dari klub- klub universitas, termasuk pencetak gol Yuki Saneto yang pemain klub Universitas Kouchi. Hal ini membuktikan kelimpahan stok pemain berkualitas yang dimiliki Jepang berkat kompetisi berjenjang negeri itu.

Perlawanan ketat UEA

Pada partai final itu, Jepang banyak menguasai permainan di babak kedua. Kendati demikian, UEA lebih banyak memiliki peluang bagus. Menit ke-24, bola sundulan Ahmed al-Jenaiby atas tendangan bebas nyaris menjebol gawang Jepang sebelum diblok kiper Shunsuke Ando.

Sepuluh menit kemudian, berawal umpan dari kiri, Omar al- Amoudi mendapat ruang tembak di kotak penalti Jepang, tetapi bola tendangannya melambung. Lewat kombinasi umpan-umpan pendek dengan umpan panjang, UEA kerap merepotkan Jepang, terutama di babak kedua. Kelemahannya, mereka kerap ragu dalam penyelesaian akhir sehingga beberapa serangan gagal.

Dua menit seusai turun minum, Ahmed Ali al-Abry menerima umpan Theyab al-Musabi dari kanan dan menendang bola yang menerpa mistar. Setelah itu, tembakan Abdulla Bloushi dari sisi kiri diblok kiper Ando.

Terlepas dari hasil, lolosnya UEA ke final dapat dinilai sukses setelah secara mengejutkan mereka mendepak Korea Selatan (Korsel), 1-0, di semifinal. Korsel harus puas dengan perunggu berkat kemenangan 4-3 atas Iran pada perebutan posisi ketiga.

Korsel seakan bakal tumbang lagi saat mereka tertinggal 1-3 di awal babak kedua. Pemain klub AS Monaco, Park Chu-young, meniupkan harapan lewat golnya menit ke-78. Dalam posisi skor 2-3, saat laga tinggal dua menit, Ji Dong-won menceploskan dua gol dan mengubah skor menjadi kemenangan 4-3.

Kasih Hanggoro Kembali Wakili RI Dalam Rally Paris Drakar

Indonesia kembali masuk dalam daftar negara yang mengirimkan perelinya ke reli terganas dunia, Reli Dakar 2011. Setelah tahun lalu terjun sendirian di Reli Dakar, Kasih Hanggoro kali ini turun dengan persiapan yang lebih baik. Dia akan dibantu oleh navigator Iriatna Yudha Satria.

”Kami tidak menetapkan target apa-apa, bisa finis saja sudah bagus. Itu kesepakatan saya dengan Yudha, yang penting kita bisa finis. Setiap tahun hanya 30 persen dari peserta yang bisa finis,” kata Kasih Hanggoro yang merupakan Ketua Badan Pelaksana Harian Universitas Budi Luhur dan Budi Luhur Racing Team itu, dalam jumpa pers Kamis (25/11) di Jakarta.

Ditegaskan, tujuan untuk ikut kembali Reli Dakar semata-mata untuk membawa bendera Indonesia memperkenalkan Indonesia di wilayah-wilayah yang akan dilalui selama Reli Dakar itu, yaitu Argentina dan Cile. Reli Dakar akan menempuh jarak total sekitar 9.000 kilometer, dimulai 1 hingga 16 Januari 2011.

Aang, panggilan Kasih Hanggoro, pada tahun sebelumnya hanya bisa menyelesaikan dua dari tujuh etape.

Keputusan Aang ikut lagi pada reli tersebut cukup mendadak, yaitu setelah melihat tidak adanya putra Indonesia yang hingga bulan Juni lalu mendaftar ikut reli bergengsi tersebut.

Aang kemudian mengajukan surat permintaan untuk bergabung dengan tim-tim peserta Reli Dakar. Suratnya direspons cepat tim Epsilon, tim elite Spanyol. ”Saya awalnya juga tidak tahu tim Epsilon ini tim apa. Baru kemudian saya tahu, inilah tim yang pernah menjadi juara dunia dengan pebalap Carlos Sainz, juga navigatornya Lucas Cruz. Jadi bergabungnya dengan Epsilon itu tidak disengaja,” kata Aang.

Aang dan Yudha telah menjalani sejumlah latihan dengan dibantu langsung oleh Lucas Cruz. Mereka pun kemudian sepakat memilih mobil Mitsubishi Montero (Pajero) V60.

”Saya diajari bagaimana membaca peta sangat rinci dan sebagian besar ditulis dalam bahasa Perancis, juga latihan baca GPS (global positioning satelite). Kami juga dapat tips-tips dari Cruz,” kata Yudha yang merupakan Kepala Mekanik Harley Davidson Indonesia.

Aang menjelaskan, partisipasinya pada Reli Dakar itu merupakan yang terakhir.

”Hal terberat dari Reli Dakar adalah medan pasir yang sangat halus, serta ketinggian rute balap yang di antaranya di ketinggian 3.600 hingga 4.000 meter. Berada di ketinggian itu membuat kepala kita pusing. Belum lagi kita baru pulang ke tenda istirahat rata-rata pukul 1 dini hari, padahal sudah harus jalan lagi pukul 07.00,” ujarnya.

Satlak Asian Games Akan Undang Pelatih Asing

Menjelang berakhirnya pesta Asian Games XVI-2010, Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas memastikan persiapan SEA Games XXVI-2011 langsung digarap. Satlak Prima berencana mengundang pelatih asing untuk menyiapkan atlet-atlet yang akan berlaga di ajang kejuaraan Asia Tenggara itu.

Ketua Satlak Prima Utama Tono Suratman, Kamis (25/11), seusai pertandingan cabang sepak takraw di Haizhu Sport Centre, Guangzhou, China, mengatakan, melihat hasil Indonesia di ajang Asian Games 2010, para atlet yang akan dikirim ke SEA Games 2011 bakal dipersiapkan dengan bimbingan pelatih asing. Pelatih asing yang didatangkan akan melatih cabang-cabang yang diperkirakan berpotensi medali. Cabang-cabang berpotensi medali itu berasal dari cabang terukur, seperti menembak, renang, atletik, panahan, dan balap sepeda.

”Pelatih asing itu perlu karena mereka akan mempertajam dan melatih teknik atlet,” ujar Tono.

Tono menambahkan, seusai mengikuti Asian Games 2010, para atlet yang turun berlaga di kejuaraan negara-negara se-Asia itu akan langsung diikutkan dalam pemusatan latihan nasional SEA Games 2011. ”Pelatnas SEA Games 2011 akan dilangsungkan mulai 7 Desember 2010. Waktu satu tahun kami pergunakan betul untuk menyiapkan atlet,” ujar Tono.

Manajer Pelatnas PB ISSI Denny Gumulya juga mengungkapkan hal itu. Tim nasional balap sepeda SEA Games 2011 yang tengah dibentuk ia pastikan juga akan mendapat pelatihan dari pelatih asing.

”Gambaran saat ini pelatih balap sepeda asing akan didatangkan dari Iran. Namun, bisa saja tim nanti yang akan berangkat ke Iran atau sebaliknya, pelatih Iran yang datang ke Indonesia,” ujar Denny.

Namun, ketika ditanya tentang surat keputusan pelatnas SEA Games yang sering menjadi kendala pengurus cabang (PB) olahraga melakukan pelatnas, Tono menyampaikan surat keputusan akan terus diselesaikan untuk mendukung pelatnas.

Hamidi, Sekretaris Satlak Prima Utama, mengatakan, sampai saat ini dari 44 cabang yang disiapkan turun di SEA Games XXVI-2011 di DKI Jakarta dan Sumatera Selatan, baru 20 cabang yang sudah mendapat surat keputusan. ”Yang 24 cabang segera menyusul,” ujarnya.

Tono menambahkan, untuk mengontrol pelatihan dan penyiapan atlet, tugas monitoring dan evaluasi akan diambil alih Satlak Prima Utama dan bukan lagi oleh Dewan Pelaksana Prima.

Memperebutkan Tuan Rumah Piala Dunia 2018 dan 2022

Bintang sepak bola Inggris David Beckham tidak mau terpancing saat ditanya soal persaingan antarnegara calon tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 saat berkunjung ke Sydney, Australia, Kamis (25/11).

Beckham adalah salah satu duta besar pencalonan Inggris untuk tuan rumah Piala Dunia (PD) 2018. Ia datang ke Sydney bersama klubnya, Los Angeles Galaxy, untuk menjalani laga persahabatan melawan mantan juara Liga Australia, Newcastle Jets, di Sydney, akhir pekan ini.

Ketika ditanya pers soal kans Australia menjadi tuan rumah PD 2022, Beckham secara diplomatis menjawab, ”(Piala Dunia) itu merupakan ajang olahraga terbesar di dunia, hal yang diincar banyak negara untuk menjadi tuan rumah. Tetapi, siapa yang akan terpilih, kita tunggu.”

Australia akan bersaing dengan Amerika Serikat, Qatar, Jepang, dan Korea Selatan untuk menjadi tuan rumah PD 2022. Adapun Inggris bersaing dengan Rusia, Belanda-Belgia, dan Portugal-Spanyol untuk tuan rumah PD 2018. Keputusan tuan rumah PD 2018 dan 2022 bakal ditetapkan lewat voting Komite Eksekutif FIFA di Zurich, 2 Desember mendatang.

Untuk Spanyol-Portugal

Sementara dari Asuncion, Paraguay, dilaporkan, negara-negara Amerika Latin telah memutuskan untuk memberikan suara bagi pencalonan Spanyol-Portugal. Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal Konfederasi Sepak Bola Amerika Latin (Conmebol) Eduardo Deluca, Rabu (24/11).

”Sepuluh negara telah sepakat untuk memberikan suara kepada Spanyol,” ujar Deluca, seusai rapat Komite Eksekutif Conmebol di Asuncion. ”Bagi orang Amerika Selatan, Spanyol seperti ibu negara dan di atas semua itu, kami punya lebih dari sekadar hubungan persahabatan dengan Federasi Sepak Bola Spanyol.”

”Kami merasa Spanyol seperti rumah sendiri.” Deluca tidak menyebutkan negara mana yang mereka dukung untuk PD 2022. Negara Amerika Latin memiliki tiga wakil di Komite Eksekutif FIFA, yang bakal melakukan voting dalam menentukan tuan rumah PD 2018 dan 2022. Spanyol juga mempunyai satu wakil di komite tersebut.

Rabu lalu, Inggris dan Belanda-Belgia mengirimkan wakil dan menggelar presentasi pada rapat Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Kuala Lumpur untuk mendapat dukungan dalam voting tuan rumah PD 2018. AFC memiliki empat wakil di Komite Eksekutif FIFA. Seperti Spanyol, Inggris dan Belanda masing-masing mempunyai satu wakil di komite tersebut.

Persaingan keras terutama terjadi antarnegara Eropa dalam memperebutkan tuan rumah PD 2018. Inggris mendapat penilaian tertinggi dalam inspeksi tim FIFA, terutama kesiapan infrastruktur stadion negeri itu.

Namun, pencalonan mereka bisa terganggu sikap media negeri itu sangat kritis pada FIFA. Beberapa waktu lalu, koran Inggris Sunday Times membeberkan rencana dua anggota Eksekutif FIFA untuk jual-beli suara. Dua anggota Eksekutif FIFA itu telah diskors dan tidak bisa mengikuti voting, 2 Desember.

Bukan hanya Sunday Times, program ”Panorama” BBC juga menyiapkan tayangan seputar korupsi di tubuh FIFA, Senin mendatang, atau tiga hari jelang voting.

Pebulu Tangkis Indonesia Markis/Hendra Raih Medali Emas Ke Empat Untuk Indonesia

Di tengah keprihatinan atas prestasi olahraga Indonesia, ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan mempersembahkan medali emas keempat bagi Indonesia dalam ajang Asian Games 2010. Emas ketiga dipersembahkan tim putra perahu naga dari nomor 250 meter.

Medali emas direbut Markis/Hendra dalam drama final melawan pasangan peringkat satu dunia dari Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, di Tianhe Gymnasium, Guangzhou, China. Markis/Hendra menang 16-21, 26-24, 21-19.

Tiga medali emas Indonesia lainnya berasal dari cabang dayung setelah tim putra Tanah Air berhasil meraih tiga medali emas perahu naga dari nomor 1.000 meter, 500 meter, dan 250 meter. Tim putra perahu naga Indonesia merebut medali emas terakhir perahu naga dengan kembali mengalahkan Myanmar dan China.

”Indonesia merupakan negara pertama yang merebut seluruh tiga medali emas pada satu multievent olahraga,” ujar Mohammad Suryadi, pelatih perahu naga Indonesia.

Perolehan empat medali emas ini memenuhi harapan para petinggi olahraga Indonesia. Sebelum berangkat ke Guangzhou, petinggi Indonesia menyatakan dapat mendulang empat emas, lebih banyak ketimbang perolehan Indonesia dalam Asian Games 2006. Waktu itu, Indonesia mendapat dua medali emas, yang berasal dari boling dan bulu tangkis.

Emas yang dipersembahkan Markis/Hendra sekaligus menjadi medali emas satu-satunya yang direbut tim bulu tangkis Indonesia di Guangzhou. Pebulu tangkis peraih emas Asian Games 2006, Taufik Hidayat, kandas di perempat final tunggal putra. Satu lagi wakil Indonesia di tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro, bahkan tersingkir pada babak pertama.

Selain emas, tim bulu tangkis Indonesia juga menyumbangkan tiga medali perunggu. Pasangan pelatnas Cipayung, Mohammad Ahsan/Alvent Yulianto, merebut perunggu di nomor ganda putra, sedangkan dua perunggu lainnya dipersembahkan pemain Indonesia dari nomor beregu putra serta putri.

Lambat

Adu strategi dan taktik guna menguasai ritme pertandingan diperlihatkan Markis/Hendra dan Koo/Tan. Pasangan Malaysia cenderung mengarahkan permainan menjadi cepat dan agresif. Sebaliknya, ganda Indonesia cenderung memperlambat tempo permainan.

”Mereka tadi bermain cepat sekali sehingga sulit bagi kami untuk mengendalikan permainan. Namun, kami berusaha terus untuk memperlambat tempo permainan, sampai poin terakhir dan untuk itu kami tidak pernah menyerah,” ujar Hendra.

”Saya senang sekali sudah mau kalah, akhirnya bisa menang,” kata Markis dalam jumpa pers.

Pada gim pertama, saat Indonesia bisa mulai menekan dengan luar biasa, Hendra malah gagal memanfaatkan kesempatan menambah poin. Smesnya di depan net menyangkut sehingga poin bertambah untuk Koo/Tan dan skor menjadi imbang 14-14.

Sejak itu, Malaysia lebih dominan. Gaya bermain pelan dan bola-bola di depan net yang dimainkan Indonesia beberapa kali justru menyulitkan mereka. Saat kedudukan 17-16 untuk pasangan Malaysia, bola pelan Hendra menjadi bumerang. Bola di atas net hasil pengembalian Hendra langsung dismes dengan cepat oleh Tan. Dominasi Koo/Tan pada gim pertama membuat ganda Malaysia itu unggul 21-16.

Pertarungan lebih ketat terjadi pada gim kedua. Beberapa kali Indonesia berhasil menekan dengan menerapkan permainan yang cepat. Sayangnya, berbarengan dengan itu, pasangan Indonesia juga kerap melakukan kesalahan. Penguasaan mereka terhadap permainan pun gagal membuahkan poin.

Markis/Hendra, peraih emas Olimpiade 2008, kelihatan akan memenangi gim kedua ketika mereka sampai pada gim poin 20-18. Namun, situasi yang menekan Malaysia justru berbalik sehingga gim poin kedua pasangan Indonesia, 20-19, kembali gagal membuahkan hasil.

Permainan pelan di sekitar net bahkan malah memaksa Hendra melakukan kesalahan. Koo/Tan pun bisa memaksakan deuce 20-20.

Gim kedua berlangsung semakin menegangkan. Tiga match point berhasil diciptakan pasangan Malaysia. Namun, dengan terhindar dari kesalahan sendiri, Markis/Hendra berhasil lolos dari tekanan hebat dan malah berbalik kembali menciptakan gim poin, 25-24. Kali ini, gim poin membuahkan hasil dan Indonesia menang 26-24.

Kekalahan di gim kedua rupanya menjadi titik balik bagi Malaysia. Gim ketiga pun berjalan hampir sepenuhnya dikuasai Indonesia. Permainan pelan sering berhasil dipaksakan oleh ganda Indonesia.

Indonesia sempat unggul 15-10. Namun, situasi berubah menjadi tegang setelah Malaysia bisa mengejar bahkan menyamakan kedudukan. Irama permainan mulai berpihak kepada Malaysia. Namun, Indonesia bisa menguasai permainan. Dikombinasikan dengan penempatan bola secara akurat di tempat kosong, pasangan Malaysia pun tunduk 19-21.

Kebahagiaan Indonesia di Zengcheng Karena Perahu Naga

Cabang perahu naga sudah mengangkat marwah bangsa dan negara Indonesia setelah tim putra Indonesia menyapu bersih tiga medali emas di Asian Games XVI-2010 Guangzhou. Bila tanpa medali emas perahu naga, rasanya posisi Indonesia hingga hari kesembilan Asian Games XVI-2010 ini tetap di bawah.

Tetapi, berkat kesungguhan dalam berlatih meski hanya empat bulan, tiga medali emas mereka telah raih. ”Kami harap dengan kemampuan kami memberikan tiga medali emas sekaligus membuat pemerintah maupun pembina olahraga di Tanah Air mau memberikan fokus pada cabang ini,” harap Japerry Siregar, anggota tim.

Keberhasilan Indonesia di Zengcheng Dragon Boat Lake, Guangdong, sungguh luar biasa. Bahkan, komentator televisi lokal Guangdong pun menyatakan penampilan tim Indonesia menakjubkan. Komentar tersebut terucap ketika tim putra Indonesia mampu menyusul China serta Myanmar pada beberapa puluh meter menjelang finis. ”Kayuhan anak-anak sejak awal nomor 250 meter ini sudah konstan pada 140 kali per menit, tetapi kemudian setelah di pertengahan stabil pada 120 dan 130 kayuhan per menitnya,” kata Mohammad Suryadi, pelatih Indonesia.

Bersama

Kebahagiaan tim putra Indonesia bukan hanya menjadi milik 22 atlet yang dipimpin Asnawir, tetapi juga menjadi kebahagiaan semua penonton di Kota Zengcheng, yang letaknya hampir 60 km dari Guangzhou.

Selesai penyerahan medali dan pengambilan gambar oleh wartawan, ketika akan memasuki bus atlet yang akan mengantar mereka kembali ke Perkampungan Atlet di Guangzhou, mereka diserbu masyarakat Zengcheng. Satu per satu dari tim putra Indonesia didaulat untuk foto bersama.

Mereka semua menjadi bintang. Mulai dari Asnawir, John Fred Matulessy, Spends Stuber Mahue, Anwar Tarra, Japerry Siregar, Marjuki, Ahmad Supriadi, Abdul Azis, hingga Erwin David Monim yang berasal dari Pulau Putali, di Danau Sentani, tanah Papua.

Keramahan bangsa Indonesia terlihat dan terbukti saat itu. Hampir semua masyarakat Zengcheng yang ingin foto bersama dilayani setiap atlet dengan wajah berhias senyum. Terkadang ada masyarakat yang ingin menggunakan medali emas yang tergantung di leher, medali pun dilepaskan.

”Ternyata yang baik hati, lugu, dan terbuka itu tidak hanya wartawan Indonesia. Atletnya pun mampu menyatu dan berbagi kebahagiaan mereka bersama warga Zengcheng. Kami sungguh senang dapat menjadi tuan rumah bagi kalian,” tutur Zhang Zhike, Manajer Media Asian Games XVI-2010 untuk cabang perahu naga.

”Sayang, semuanya terlalu cepat berlalu. Justru di saat warga kami tengah menikmati kebahagiaan yang dirasakan tim Indonesia di Zengcheng sini,” tutur Zhang yang pernah berlibur ke Indonesia.

Zhang menggunakan beberapa mahasiswa lokal yang belajar bahasa Indonesia sehingga wartawan juga merasa terbantu dengan keberadaan beberapa mahasiswa yang menjadi relawan Asian Games XVI-2010 karena mereka lancar berbahasa Indonesia. ”Semuanya jadi berkesan sekali. Kami dapat tiga medali sekaligus, padahal baru pertama kali ini saya ikut Asian Games. Tetapi, sekarang, masyarakat di sini dorang baik-baik lagi,” kata Erwin.