Voli Pantai Putri Adalah Tontonan Yang Paling Dinikmati Pria Timur Tengah Meski Bikini Haram Tapi Menyenangkan

Empat remaja berusia 20-an tahun, salah seorang di antaranya bernama Habib, asyik menonton beberapa tim voli pantai putri berlatih menjelang pertandingan, Senin (6/12) di Al Musannah Sports City, lokasi perhelatan Asian Beach Games 2010, Muskat, Oman. Seusai menonton dua tim putri Jepang, mereka beringsut ke lapangan sebelah, menyaksikan dua tim voli putri Indonesia yang juga sedang berlatih.

Sambil tertawa-tawa, mereka tampak menikmati tontonan itu. Suka voli? ”Suka, tetapi tak bisa bermain,” sahut Habib menjawab pertanyaan Kompas. Ia lantas mengambil bola yang menggelinding keluar lapangan dan melemparkannya kepada Aning, atlet voli pantai Indonesia.

Ia kembali terbahak dan mengaku, ”Ya, suka” ketika ditanya apakah suka menonton tim putri berlatih. Boleh jadi memang soal bikini—kostum yang dikenakan para pemain voli pantai putri—yang menjadi daya tariknya. Ia lantas buru-buru menambahkan, ”Memakai pakaian seperti itu haram.” Lalu, mengapa kalian menonton? ”Haram, tetapi kami suka melihatnya,” kata Habib dan ketiga temannya sambil tertawa.

Bikini memang menjadi kostum standar internasional untuk atlet voli pantai putri. Bertanding voli dengan kostum seperti itu sudah menjadi pemandangan yang biasa di berbagai turnamen. Apalagi, voli pantai memiliki jadwal tur dunia yang pasti di setiap tahunnya dan hampir digelar setiap bulan di seantero jagat.

Ketika cabang olahraga ini digelar di Oman—yang baru pertama kali ini menggelar ajang multicabang setingkat Asia, khususnya untuk olahraga pantai—suasananya semakin semarak. Saat atlet putri bertanding, bangku penuh oleh penonton pria.

Budaya masyarakat Oman merujuk pada norma agama Islam, tetapi masyarakatnya menghargai keragaman agama. Seiring perkembangan zaman, transnasionalisme, dan globalisasi, Oman makin terbuka menerima budaya Barat. Seperti dikatakan Menteri Olahraga Kesultanan Oman Ali bin Masoud al-Sunaidy, masyarakat Oman tidak berkeberatan dengan kostum untuk atlet voli pantai putri. Artinya, mereka tidak memprotes ketika kostum tersebut dipakai di Oman. ”Asalkan bukan atlet putri Oman yang mengenakannya,” kata Ali di sela-sela kunjungannya ke Al Musannah Sports City yang terletak 125 kilometer dari jantung ibu kota Oman, Muskat.

Menurut Ali, kostum, mode, atau pakaian adalah sebuah pilihan. Aturan internasional untuk kostum voli pantai putri memang bikini, tetapi itu tidaklah kaku. ”Atlet kami bisa mengenakan celana panjang kok. Pilihan itu hak,” katanya. Jika pada ABG II ini Oman tidak mengikutsertakan tim voli pantai putri, itu karena Oman belum memiliki tim yang kuat.

Oman menjaga tradisi berbusana, seperti daishdasha atau kandoorah, yang biasa dikenakan para pria Oman. Ini semacam jubah atau baju panjang semata kaki dengan kancing di sepanjang depan jubah. Kandoorah dilengkapi dengan mussar, kain wol atau anyaman yang dililitkan melingkari kepala. Perempuan Oman juga mengenakan daishdasha, jubah panjang semata kaki, tetapi masih tetap mengenakan celana panjang. Masih ada abaya, lalu hijab atau jilbab dan burqa untuk menutupi wajah (di daerah tertentu). Sekali lagi, busana adalah soal pilihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s