Wawancara Dengan Daud Yordan Juara Tinju Dunia Versi IBO Asal Indonesia

Daud Yordan meraih cita-citanya menjadi juara dunia tinju pada 5 Mei lalu dalam perebutan gelar juara kelas bulu versi Organisasi Tinju Internasional (IBO) yang lowong di Singapura melawan Lorenzo Villanueva asal Filipina.

Pria kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, 10 Juni 1987, ini menjadi juara dunia tinju dari Indonesia yang kedua setelah Chris John dengan menang knock out atas Lorenzo di ronde kedua. “Yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin,” katanya di salah satu hotel di kawasan Semanggi, Jakarta, Kamis 10 Mei 2012 lalu.

Mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan celana jins, Daud bercerita tentang warna-warni hidupnya sebagai petinju profesional.

Bagaimana rasanya menjadi juara dunia?

Senang sekali, ya, artinya apa yang dicita-citakan saya dan keluarga tercapai. Yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Yang tadinya harus pontang-panting sekarang bisa keluar dari (situasi) itu. Sangat senang sekali bisa sampai ke level juara dunia. Karena liku-liku perjalanan di awal karier tinju kami tajam sekali. Ini buah dari kerja keras itu.

Lika-liku apa saja?

Awal-awal karier saya sangat sulit. Sampai untuk membeli sarung tinju pun saat itu harus berutang. Namanya baru mau menunjukkan kemampuan, respons dari orang pun hanya sekadarnya. Sekarang orang sudah melihat buktinya.

Bagaimana tanggapan keluarga setelah kemenangan ini?

Kami berpelukan, impian kami tercapai. Terlebih saya pulang dalam kondisi yang sehat. Karena tinju adalah olahraga yang sangat berbahaya. Saya lebih memilih kena pukul KO satu kali daripada dari ronde 1-10 dipukulin sama orang tapi tidak KO KO. Itu pasti cedera dan pasti tidak akan balik. Yang namanya saraf, kalau sudah putus, tidak akan bagus. Keselamatan itu sangat penting.

Berapa besar uang bonus untuk juara dunia?

Kalau itu agak sensitif. Yang penting saya diberi kesempatan. Itu yang terpenting. Karena jago pun kalau tidak punya kesempatan, ya, percuma. Banyak petinju kita yang dulu punya kemampuan dan talenta luar biasa tapi, karena kesempatan itu tidak ada, akhirnya, ya, tidak muncul. Yang terpenting adalah kesempatan, finansial dan bonus secara otomatis akan mengikuti. Menteri (Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng) berencana memberikan penghargaan, entah apa bentuknya.

Setelah gelar juara dunia diraih, apa mimpi selanjutnya?

Mimpi saya tidak pernah padam. Saya sudah di level juara dunia. Saya mendapatkannya dengan susah payah, sekarang tinggal bagaimana mempertahankan gelar ini selamanya. Karena berada sebagai juara itu dua kali lebih berat dari si penantang. Ini tugas yang berat.

Waktu itu sempat dipukul jatuh oleh Lorenzo di ronde pertama?

Saya kena pukulan di bagian dagu. Pukulan itu lebih keras dari daya tahan tubuh saya sehingga saya jatuh. Namun ada yang keras sepersekian detik, ada yang keras berkepanjangan. Jadi petinju, meski sudah berdiri, masih terhuyung. Antara dia jatuh dan saya jatuh, ketahuan siapa yang lebih keras pukulannya.

Apa sakit akibat pukulan itu masih terasa?

Biasanya kalau petinju bertarung sampai 12 ronde pasti sakit semua badannya, alhamdulillah saya cuma dua ronde jadi sedikit-lah ada sakitnya.

Apa yang menjadi motivasi sehingga bangun lagi kemudian menang?

Saya capek berlatih setiap hari. Masak dengan latihan sekeras ini cepat sekali saya jatuh, tidak berimbang ini. Dia harus bayar lunas latihan ini. Itu yang terlintas di pikiran sehingga saya termotivasi untuk bangun.

Saat itu memang optimistis menang?

Iya, karena itu harus. Petinju sejelek apa pun, kalau naik ring, harus tetap optimistis. Optimistis bisa untuk menutupi rasa takut atau bisa juga muncul karena merasa sudah latihan keras. Saya berada di posisi yang kedua, bukan untuk menutupi ketakutan saya.

Apa Anda punya rasa takut di atas ring?

Petinju mana yang tidak punya rasa takut dan ngeri, semua sama. Kami punya hati dan empedu yang sama, tidak mungkin tidak ada rasa takut. Hanya bagaimana supaya tidak takut. Dalam setiap pertandingan, rasa khawatir, waswas, galau, itu pasti ada setiap bertanding.

Apa cita-cita Anda?

Cuma jadi petinju. Karena tidak ada pilihan. Kami dari keluarga yang sulit, jadi pilihan untuk main juga tidak ada. Tidak ada uang dan barang yang mau dibeli juga tidak ada, jadi sinkron. Saat itu hanya tinju yang dikenal dan karena itu ingin jadi petinju terkenal. Dari usia 6 tahun, saya sudah mulai bertinju, tapi waktu itu belum serius.

Ada ritual khusus sebelum naik ring?

Saya berdoa saja, baik bersama-sama atau pribadi, itu saja. Kalau berdukun atau pakai kemenyan, tidaklah.

Pernah ada dukun yang menawarkan bantuan?

Memang banyak yang menawarkan. Katanya, sekali pukul orang bisa mental. Kalau memang bisa, bapak saya yang sudah tua pun saya suruh bertinju lagi. Ternyata tidak bisa, ternyata harus kerja keras. Mau pintar tidak ada jalan lain kecuali belajar, tidak ada jalan pintas.

Latihan berapa kali sehari?

Dua kali setiap hari, pagi dan sore. Dari Sabtu sampai Sabtu sampai Sabtu lagi, tidak ada libur. Kalau tidak latihan, justru tidak enak. Tinju ini seperti makan, tidak latihan, ya, tidak makan, tidak makan, ya, tidak latihan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s