Category Archives: Futsal

Harimau Rawa Juara Liga Futsal Indonesia 2010

Tim Harimau Rawa Riau akhirnya menjuarai Liga Futsal Indonesia Ke-4 tahun 2010 setelah mengalahkan Electric PLN Jakarta, 13-12, dalam adu penalti yang menegangkan pada babak final, Rabu (24/11), yang berlangsung hingga tengah malam. Tim asuhan pelatih Ricardo ini pun berhak mengantongi hadiah Rp 60 juta, sedangkan Electric PLN mendapatkan Rp 40 juta.

Juara ketiga direbut tim Pelindo II Jakarta setelah mengempaskan tim Futsal Kota Bandung, 5-2, juga pada Rabu malam. Kedua tim memperoleh hadiah Rp 30 juta untuk juara ketiga dan Rp 20 juta untuk juara keempat.

Babak final four ini mempertemukan empat tim yang sama- sama kuat dan ulet. Tidak ada tim yang menang mudah atas tim lainnya sejak duel sengit hari Senin dan Selasa lalu. Babak final antara Harimau Rawa dan juara bertahan Electric PLN membuktikan bahwa kedua tim ini memang layak menjadi dua terbaik di liga ini.

Kedua tim bermain hati-hati selama babak pertama hingga kedudukan berakhir 0-0. Pada babak kedua, kedua tim dengan pola permainan menyerang ini mulai berusaha membobol pertahanan lawan, yang akhirnya membuahkan skor, menjadi 2-2 hingga 20 menit babak kedua usai.

Gol Harimau Rawa disarangkan Stevanus Kelen dan Sandy, sedangkan gol Electric PLN dibikin Deny Handoyo dan F Maulid Badriana. Dua gol Elec- tric PLN ini cukup spektakuler. Deny menggetarkan gawang yang dijaga kiper Agus Salam pada menit ke-38, hanya satu menit setelah Sandy membuahkan gol.

Babak perpanjangan waktu 2 x 5 menit pun digelar dan lagi-lagi kedua tim sama-sama menyerang sekaligus sama-sama kuat bertahan. Keduanya pun sama- sama membobol jaring lawan masing-masing dua gol. Adu penalti menjadi ajang penentuan terakhir.

Nike Gelar Program Seleksi Pemain Muda Berbakat Indonesia Untuk Dikirim Ke London

Produsen perlengkapan olahraga Nike akan menggelar program The Chance yang menyeleksi pemain-pemain muda sepak bola Indonesia untuk ikut Nike Academy di London, Inggris. Pemain yang lolos seleksi akan menjalani pelatihan selama setahun di London di bawah pelatih-pelatih berlisensi Liga Primer.

Seleksi pemain muda ini berlangsung di 40 negara dan akan menghasilkan 100 pemain. Para pemain itu akan diseleksi lagi di London. Tim seleksi yang terdiri atas pelatih-pelatih berlisensi Liga Primer itu akan memilih delapan anak. Para pemain juga akan diuji oleh pelatih kepala Arsene Wenger yang juga membesut Arsenal.

Delapan pemain muda yang lolos seleksi akhir di London itu memiliki peluang untuk mendapatkan tawaran kontrak dari klub-klub Inggris.

”The Chance merupakan pencarian global bakat-bakat baru pemain sepak bola yang bisa bergabung dengan Nike Academy. Mereka akan dilatih untuk menjadi pemain profesional dan berkesempatan untuk mendapatkan tawaran kontrak untuk bermain bersama klub di Inggris,” ujar Manajer Pemasaran Nike Indonesia Dyah Oetari, Selasa (31/8).

Di Indonesia, lanjut Dyah, perekrutan akan diadakan di Surabaya dan Jakarta. Ditargetkan sekitar 400 anak ikut dalam perekrutan ini dan akan dipilih 30 pemain berbakat. Mereka akan dikumpulkan di Jakarta dan diuji oleh tim yang dipimpin oleh pelatih klub Liga Super Indonesia Rachmad Dharmawan. Panel pelatih antara lain Patar Tambunan, Nursaelan, Aji Ridwan Mas, dan Yopie Riwoe.

Menurut Dyah, seleksi dilakukan dalam uji coba lokal pada 19-20 September. Seleksi pertama di Surabaya pada 19 September. Pemain yang sudah terpilih seleksi di Surabaya akan diberangkatkan ke Jakarta yang sekaligus diadakan seleksi pada 20 September. Peserta hasil seleksi akan mengikuti trial camp pada 22-23 September.

Pemain yang mendapat kesempatan ke London akan ditentukan pada 23 September. Untuk informasi dan mendaftar program The Chance bisa dilakukan di situs http://www.nikefootball.co.id.

Futsal Semakin Medarah Daging Dan Beken Dikalangan Anak Muda

Futsal Di Jatim Genderang perang pun ditabuh. Lagu-lagu mars perjuangan khas suporter sepak bola Surabaya dipekikkan. Seorang dirigen memandu aransemen para suporter yang memakai kaus hitam kumal.

Suporter SMAN 1 Waru pagi itu tampil kompak menyemangati timnya yang bertanding melawan SMKN 6 Malang. Naas, tim mereka kalah di penyisihan final ”Kompas MuDA-Pocari Sweat Futsal Competition” (KPFC) yang digelar di GOR Hayam Wuruk Kodam V Brawijaya, Surabaya, Sabtu (7/8).

Di akhir pertandingan, sempat terjadi kericuhan. Entah siapa yang memicu, tetapi kericuhan dengan cepat diredam. Bibit kericuhan sejenis hari itu terjadi lagi di beberapa pertandingan, termasuk di final malam harinya.

”Tak pernah terjadi sebelumnya,” komentar panitia ketika ditanya apakah selama pertandingan dari babak penyisihan 64 besar sebelumnya pernah ada kerusuhan.

Kericuhan-kericuhan kecil itu terjadi spontan saja. Begitu cepat diredam, suasana kembali normal.

Ketegangan selalu mewarnai pertandingan karena semua yang hadir menganggap pertandingan futsal adalah pertaruhan jati diri. Suara panitia dari pengeras suara yang menekankan kalau futsal hanya ”permainan” tak meredakan emosi mereka.

”Wasitnya kurang adil,” suara itu meluncur dari mulut seorang pelatih. Mulai dari suporter, pemain, hingga pelatih menganggap pertandingan ini serius.

”Futsal di Jawa Timur (Jatim) bukan sekadar hobi mengisi waktu luang, tetapi lebih dari sekadar itu. Makanya, kami bisa marah kalau wasitnya curang,” kata sang pelatih.

Bagi Jatim, sama seperti sepak bola di lapangan besar, futsal mulai mendarah daging. Futsal adalah ”agama baru” yang sedang tren, menggerus basket. Jadi, kalau ada yang menyenggol emosi mereka sedikit saja, kerusuhan bisa tersulut.

Ikut tren

Para pelatih yang ditemui MuDA mengakui, perkembangan futsal di Jatim menggembirakan. Di mana-mana dibangun lapangan futsal. Peminat di sekolah juga banyak. Bisa dikatakan, semua SMA punya ekskul futsal dan peminatnya membeludak.

Di SMKN 6 Malang, misalnya, dalam tiap kali perekrutan ada sekitar 200 anak yang berminat.

”Padahal, yang diambil cuma 30 orang. Itu sudah banyak, lebih dari itu kami terkendala tempat latihan, waktu, dan biaya,” kata Wahyu Adiwarso, pelatih futsal SMKN 6 Malang.

Idrus Hidayat, pelatih futsal MAN Sidoarjo, mengatakan, tren futsal memaksanya meninggalkan lapangan besar. ”Di sekolah yang sering mendapat prestasi justru futsal, ekskul lain seperti basket kalah tren,” katanya.

Setiap ada kegiatan OSIS, pasti ada pertandingan futsal. Jadi, futsal tak lepas dari kegiatan rutin di sekolah.

Lalu kenapa futsal yang dipilih? Bukankah Jatim maniak sepak bola? ”Kalau sepak bola itu dikit-dikit protes. Anak-anak saya didik untuk tidak protes,” kata Idrus.

Sepak bola memang punya kultur tensi tinggi. ”Saya bosan dan kapok dengan berbagai masalah itu. Saya tinggalkan lapangan besar dan menekuni futsal,” jelasnya.

Walau futsal menang tren dari basket, dari sisi pembinaan masih minim. ”Ajang kompetisi seperti KPFC ini sangat kami tunggu. Ini merupakan ajang agar futsal tidak kalah dengan basket,” katanya.

Irwanto Nugroho, pelatih futsal SMA Sejahtera Surabaya, mengakui perkembangan futsal di Jatim mengejutkan. ”Kalau ngomong tim mana yang unggulan, sebenarnya tidak ada. Semua punya kemampuan merata,” kata pelatih yang mengantarkan timnya Juara I KPFC ini.

Kini, menurut Irwanto, Jatim tinggal selangkah lagi untuk serius menjadikan futsal sebagai kebanggaan kedua setelah sepak bola. Untuk menjadi tim tangguh, prinsipnya hanya satu, sering latihan.

”Kendala melatih anak-anak SMA adalah kurang disiplin. Waktunya latihan, masih banyak yang terlambat. Anak-anak saya tekankan, selama bisa disiplin, kamu nanti akan jadi orang dan punya masa depan di futsal,” katanya.

Di Jatim, tak hanya futsalnya yang bagus. ”Penontonnya juga antusias. Pas KPFC ini suporter kami sedikit karena di sekolah ada acara. Selain itu, di hari yang sama kami juga main di tempat lain,” katanya.

Minim wadah

Fenomena futsal di sekolah, menurut para pelatih futsal, sudah mengalahkan tren basket. Namun, wadah untuk memfasilitasi gairah mereka masih minim.

”Wadah untuk berkiprah masih minim. Sedikit kompetisi bagus yang digelar. Pengurus cabangnya saja tidak ada. Di provinsi, setahu saya, sudah ada, tetapi juga baru mulai,” papar Sai Dong, pelatih SMAN 7 Surabaya.

Menurut Sai Dong, tak mudah membina pemain futsal profesional ketika sudah masuk SMA. Karena itu, pemerintah harus ikut campur untuk menyemarakkan regenerasi futsal.

”Banyak kendalanya. Salah satunya terkait waktu latihan. Soalnya, anak-anak SMA masih dikontrol orangtua untuk fokus dengan studinya,” kata Wahyu.

Namun, melatih anak-anak SMA ada juga keuntungannya, mereka lebih mudah diarahkan. ”Saya melatih dengan teori juga. Kalau melatih anak-anak klub bola, malah susah karena mereka sudah terbentuk,” tutur Sai Dong.

Wahyu Adiwarso, pelatih futsal SMKN 6 Malang, mengatakan, jarang sekali yang berani mempertemukan tim Malang dengan tim Surabaya. ”Ya, itu memang sejarah panjang, banyak yang khawatir kalau dipertemukan bakal rusuh,” katanya.

”Sebelumnya, tak ada yang berani membuat kompetisi futsal SMA yang melibatkan lintas wilayah, terutama mempertemukan Surabaya dan Malang,” kata Wahyu.

Oleh karena itu, begitu mendengar ada kompetisi KPFC yang lintas wilayah, Wahyu gembira dan mendaftarkan timnya yang menjadi juara II.

Surabaya dan Malang secara kultur memang ”bermusuhan”. Lihat saja ketika Arema Indonesia bertanding dengan Persebaya.

Nah, kultur itu ternyata masih terbawa di pertandingan futsal. Cara main, perilaku suporter, dan pemicu kerusuhan juga mirip dengan sepak bola. Beberapa tim futsal masih terbawa dengan karakter lapangan besar.

Wahyu menyayangkan belum adanya kepengurusan futsal yang sampai ke daerah dan menggandeng sekolah-sekolah sebagai asetnya. ”Padahal, futsal, kan, mau dipertandingkan di PON. Anak-anak SMA seperti ini pantas dibangun bakatnya,” katanya.

Harusnya, mulai sekarang sudah ada event untuk mencari bakat para pemain futsal. Dalam konteks ini, event KPFC yang lintas wilayah untuk siswa SMA pantas dikembangkan.

”Event lintas wilayah ini yang langka. Seingat saya, yang dilakukan Kompas dan Pocari ini sebuah terobosan yang berani, menggabungkan Surabaya dan Malang dalam satu kompetisi,” katanya.

”Kami senang karena dari Malang bisa bermain di Surabaya. Usul saya, setelah final di Surabaya, tahun depan harusnya pindah ke daerah lain,” lanjut Wahyu, yang juga melatih futsal di klub Kawat Duri, Malang.