Category Archives: Lari Marathon

Lari Cepat Selama 1 Jam Seminggu Lebih Efektif Daripada Lari Pelan Setiap Hari

Pepatah yang bunyinya biar lambat asal selamat tidak berlaku lagi kalau sudah menyangkut olahraga menurunkan berat badan. Menurut penelitian, lari cepat atau sprint lebih efektif melangsingkan tubuh daripada jogging atau lari pelan.

Penelitian yang dilakukan di University of New South Wales ini menunjukkan bahwa efek dari berlari dengan kecepatan tinggi bukan hanya rasa capek dan pegal-pegal di kaki. Lebih dari itu, berat badan bisa turun lebih cepat daripada hanya lari perlahan.

Lari cepat dengan total durasi 60 menit dalam seminggu diklaim sama manfaatnya dengan lari perlahan selama 7 jam, masing-masing selama 1 jam dan dilakukan setiap hari selama seminggu. Dilihat dari waktu yang dibutuhkan, lari cepat akan sangat menghemat waktu.

Dalam penelitian tersebut, 40 orang laki-laki dewasa diminta untuk mejalani olahraga lari cepat secara rutin sebanyak 3 kali seminggu. Seluruh partisipan yang dilibatkan mengalami kelebihan berat badan, serta berusia relatif muda yakni sekitar 20-an tahun.

Di setiap sesi latihan, para partisipan hanya disuruh berlari secepat mungkin selama 8 menit lalu kembali ke kecepatan normal dalam 12 menit berikutnya. Meski cuma sebentar yakni 8 menit, lari cepat mampu meningkatkan denyut jantung hingga 80-90 persen dari denyut maksimal.

“Dalam 3 kali 20 menit sesi latihan tiap pekan, mereka hanya olahraga berat selama 8 menit,” kata Prof Steve Boutcher yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Indiavision, Senin (2/7/2012).

Pengaturan lari dengan kecepatan tinggi semacam itu terbukti bisa membakar lemak sebanyak 2 kg selama masa pengamatan yakni 12 pekan. D1 sisi lain, massa otot meningkat 1,1 kg sehingga total berkurangnya berat badan bisa mencapai rata-rata 0,9 kg.

Secara teknis, Dr Boutcher menjelaskan bahwa lari cepat dapat merangsang pelepasan sejenis hormon yang disebut catecholamine. Hormon ini merangsang pelepasan lemak, khususnya lemak perut dan lemak visceral, sehingga lebih mudah dibakar menjadi energi.

42 Negara dan 4700 Orang Ikuti Borobudur Internasional Hash 10K

Sedikitnya 4.700 orang mengikuti Borobudur Internasional Hash (Interhash) 2012 pada 22-27 Mei 2012 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Mereka datang dari 42 negara.

“Hash ini merupakan komunitas pencinta olah raga lari lintas alam yang bersifat non-kompetitif dengan menggabungkan unsur persaudaraan dan hiburan,” kata Ketua Borobudur Interhash 2012 Lien Chie An di Candi Prambanan, Jumat malam, 25 Mei 2012.

Sedangkan Interhash merupakan event berskala internasional yang diprakarsai sejak 1978. Event itu dilaksanakan setiap dua tahun sekali dengan lokasi yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain.

Indonesia terakhir menjadi tuan rumah Interhash pada 1988 di Bali. Sebelumnya pada 1982 di Jakarta. Tujuan lain dari kegiatan ini untuk mengenalkan wisata Indonesia. “Selain olah raga lintas alam dan persaudaraan, juga mengenalkan wisata di Indonesia,” kata dia.

Kegiatan Interhash ini diharapkan bisa menjadi pendorong pertumbuhan industri pariwisata nasional. Melalui kegiatan inilah, aktivitas pariwisata dan budaya yang dikemas dalam wujud kegiatan olahraga lintas alam akan terpromosikan secara luas.

“Untuk menggelar acara seperti ini sangat sulit. Sudah 24 tahun Indonesia baru bisa menjadi tuan rumah,” kata salah seorang promotor Borobudur Interhash 2012, Oei Hong Djien.

Ia mengakui butuh perjuangan keras untuk memenangkan perebutan tempat penyelenggaraan. Banyak panitia di berbagai negara juga menginginkan hal yang sama. Sinergi dan dukungan dari semua kalangan yang akhirnya membawa Interhash bisa digelar di Prambanan dan Borobudur.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk memenangi kegiatan-kegiatan alam seperti Interhash. Selain faktor alam, potensi ini juga ditunjang oleh ragam budaya dan pariwisata yang berkelas dunia.

“Tetapi, potensi saja belum cukup, butuh dukungan dari semua pihak untuk mempromosikan potensi ini ke berbagai pihak dan ke dunia internasional,” kata dia.

Menurut Direktur Bank Central Asia (BCA) Armand W. Hartono, Borobudur Interhash 2012 diharapkan bisa menjadi dukungan dan kampanye bagi kegiatan kepariwisataan nasional. “Lebih dari 4.700 peserta dari dalam dalam dan luar negeri termasuk nasabah BCA Prioritas ikut event ini,” kata Armand.

Revolusi Waktu Geoffrey Mutai Di New York Marathon Melewati Batas Psikologis

Geoffrey Mutai dari Kenya menjuarai New York Marathon, kemarin. Pelari 30 tahun ini mencetak waktu 2 jam 5 menit 6 detik. Catatan waktu ini memang belum memecahkan rekor dunia yang dipegang pelari Kenya Patrick Makau dengan 2 jam 3 menit 38 detik. Tapi New York mencatatkan sejarah yang khusus bagi dunia maraton: sebagai lomba dengan pemenang mampu menembus 2 jam 7 menit. Ini merupakan batas psikologis dalam lari 42,195 kilometer itu. Bertahun-tahun tak seorang pelari pun mampu menembus batas ini.

Maraton mencatat penajaman waktu yang siginifikan sejak era 2000-an. Sebelum itu jarang ada pelari yang mendekati 2 jam 7 menit, apalagi 2 jam 5 menit. Tapi pada 2003 Paul Tergat dari Kenya menembus 2 jam 5 menit. Namun pemecahan waktu bersejarah ini tidak menghasilkan perubahan apa pun dalam gaya lari maraton. Bahkan di tahun 2004, 2005, dan 2006 para pelari seolah-olah kembali ke masa sebelum Paul Tergat memecahkan rekor. Jumlah pelari yang melewati 2 jam 7 menit menurun. Tak ada lagi yang mampu mendekati 2 jam 5 menit.

Waktu tempuh yang semakin cepat ini jelas merupakan “Efek Tergat”. Tapi catatan waktu Tergat bertahan lama, walaupun kita tahu pasti akan dipecahkan. Pada 1990-an, rekor-rekor dunia lari jarak jauh di lintasan stadion, khususnya nomor 10 ribu meter, pecah secara meyakinkan. Ini berkat atlet yang berlaga di nomor lari berjarak lebih panjang. Ketika Tergat dan Gebrselassie, dua juara dunia dari “generasi lari lintasan (trek)”, akhirnya pindah ke nomor maraton, kepindahan itu diyakini akan memecahkan kebuntuan pemecahan waktu maraton.

Tergat adalah yang pertama berhasil. Sedangkan Gebrselassie membutuhkan waktu lebih lama. Selanjutnya ia menduduki puncak daftar tahunan dengan konsistensi yang menakjubkan. Tapi terobosan besar waktu sampai 2007, ketika Gebrselassie berlari 2:04:26 untuk menang di maraton Berlin. Ini adalah catatan prestasi yang seolah-olah membuka “gerbang penahan banjir” prestasi. Pada 2008, prestasi baru tercipta, dengan Samuel Wanjiru dari Kenya dan Gebrselassie sebagai pembuka jalan.

Tahun 2008, Gebrselassie bahkan lebih baik, menerabas 2 jam 04 menit, dan diikuti sejumlah pelari lain yang menembus 2 jam 06 menit. Dunia maraton menyebutnya “Efek Gebrselassie”. Pada 2008 itu lima pelari mematahkan waktu 2 jam 6 menit–pertama kalinya sejak 2003, selain Gebrselassie. Tentu saja pada 2008 ada catatan emas ketika Haile Gebrselassie berlari 2:03:59 untuk mengukir rekor dunia di Berlin.

Bahwa prestasi di Berlin merupakan yang paling signifikan tahun 2008, itu tak bisa dimungkiri. Tapi prestasi Samuel “Sammy” Wanjiru di Olimpiade Beijing Marathon tahun 2008 juga luar biasa. Wanjiru menjadi semacam katalis perubahan bagi sikap pelari maraton sampai sekarang. Berlari pada hari yang panas dan lembap di Beijing, mengubah maraton dari sekadar lomba menjadi tempat perang yang diserang musuh. Para penulis maraton seperti Jim Ferstle menyebut telah terjadi “Efek Wanjiru” di Beijing.

Sebelumnya belum pernah ada pelari Kenya yang merebut medali emas Olimpiade. Wanjiru akhirnya menjawab tantangan itu. Ia berlari dengan tempo cepat, sebuah tempo yang bisa membuatnya “terbunuh”. Wanjiru tampaknya menciptakan tempo itu untuk membunuh niat setiap pelari merebut medali emas. Sammy Wanjiru pun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri–dalam arti sebenarnya. Ia melompat dari balkon rumahnya di Nairobi, Mei 2011 yang lalu.

Sikap Wanjiru dalam berlari, juga Gebrselassie, membawa perubahan pada dunia maraton. Gebrselassie menunjuk menjadi target baru, 2 jam 03 menit, sebagai era baru dunia maraton. Pada 2009, dua pelari menciptakan 2:04:27 di Rotterdam, dan enam lainnya akan melewati 02:06 tahun itu. Jadi secara tota, ada delapan pelari yang mampu mengukir 2 jam 06 menit. Sebagian besar dari mereka adalah pelari Kenya.

Indonesia Sedang Butuh Banyak Pelari Sprinter

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia Boedi Darma masih melihat kurangnya bibit-bibit pelari yang bisa meneruskan sprinter-sprinter saat ini. “Saya melihat secara bakat masih sedikit yang memenuhi standar,” katanya saat ditemui, Rabu 7 Desember 2011.

Pada Kejuaraan Nasional Hot Sprint Yunior-Remaja dan 1000M Remaja 2011, dari sektor putra, sprinter asal Nusa Tenggara Barat Safwaturrahman mendominasi perlombaan. Pada babak kualifikasi nomor lari 60 meter remaja putra, Safwaturrahman finis terbaik dengan catatan waktu 6,87 detik. Catatan ini mendekati rekor nasional remaja yang dipegang Franklin Ramses Burumi yaitu 6,85 detik.

Pelari asal Nusa Tenggara Barat itu melesat jauh dibandingkan pelari lainnya di-heat ketiga. Arif Rahmat Gunawan asal DKI Jakarta ikut lolos ke babak semifinal dengan catatan waktu 7,49 detik. Safwaturrahman -yang memang sudah berlatih di pelatnas PB PASI- masih menjadi yang terbaik dibandingkan yang lainnya. “Pembibitan di daerah untuk pelari sprint dan 1000 meter belum terlalu baik,” kata Boedi.

Semua pelari yang lolos ke babak semifinal mencapai garis finis dengan kisaran catatan waktu 7 detik. Yang terdekat dengan Safwaturrahman adalah Noval Kurniawan asal Sulawesi Tengah yang membukukan catatan waktu 7 detik.

Dari nomor lari 60 meter yunior putra, catatan waktu terbaik yang diciptakan di babak semifinal bahkan tidak bisa melampaui catatan waktu Safwaturrahman. Riski Latip asal Kalimantan Timur yang mencatatkan waktu paling cepat hanya membukukan 6,98 detik. Rekor ini masih jauh di bawah rekor nasional yunior milik Franklin, 6,73 detik.

Kehadiran kompetisi khusus lari jarak cepat ini sebetulnya menjadi bagian dari upaya PASI untuk melakukan regenerasi atlet. Boedi mengatakan bahwa pihaknya sebetulnya mengharapkan agar setiap daerah bisa melakukan pembinaan yang tepat. “Karena kami berharap nantinya akan banyak atlet yang bisa bersaing di kejuaraan-kejuaraan yang kita buat,” ujarnya.

Pelari Umur 17 Tahun Safwaturrahman Pecahkan Rekor Hot Sprint Peraih Medali Emas SEA Games XXVI Asal Papua Franklin Ramses Burumi

Pelari Safwaturrahman, memecahkan rekor atlet atletik Peraih medali emas SEA Games XXVI asal Papua, Franklin Ramses Burumi, dalam final kejuaraan nasional atletik hot sprint 60 meter nomor remaja, di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Kamis, 8 Desember 2011.

Safwaturrahman berhasil meraih kecepetan 6.80 detik, mengungguli rekor Franklin yang meraih kecepatan 6.85 detik pada 29 November lalu. “Ini ajang pembuktian saya. Saat SEA Games kemarin saya tidak diturunkan,” katanya, usai pengalungan medali.

Dia mengaku tampil buruk saat tes SEA Games lalu. Namun atlet berusia 17 tahun asal Nusa Tenggara Barat ogah berpuas diri dan berkeras supaya bisa tampil di SEA Games 2013 nanti. “Itu target saya dan harus menjadi tahun spesial saya.” kata Safwaturrahman.

Remaja ini beberapa kali menjadi juara di ajang nasional, seperti saat Kejurnas 2011 di nomor 200 meter. Di ajang internasional, dia meraih medali perak nomor 100 meter dengan kecepatan 10.63 detik dan di nomor 200 meter dengan kecepatan 21.38 detik dalam Asian Junior 2010 lalu. Dalam waktu dekat, Safwaturrahman menargetkan untuk memecahkan rekor Junior pada tahun 2012 mendatang.

Pelatih Subagiyo mengatakan Safwaturrahman merupakan sprinter masa depan Indonesia. “Dia memang luar biasa,” katanya.

Berdasarkan hasil akhir Kejurnas hot sprint 2011 tersebut, untuk juara dua nomor remaja putra 60 meter diraih oleh atlet asal Sulawesi Tengah, Noval Kurniawan dengan kecepatan 7.00 detik, disusul atlet asal Jawa Tengah, Sutrisno dengan kecepatan 7.07 detik.

Sementara untuk nomor yunior putra 60 meter, dimenangkan oleh M Roziqin, atlet asal Jawa Timur dengan kecepatan 7.02 detik, disusul atlet yang juga berasal dari Jawa Timur, Sugeng Purwanto dengan kecepatan 7.03 detik, dan juara tiga diraih Rio Maholtra dari Sumatera Selatan dengan kecepatan 7.03 detik.

Sedangkan nomor remaja putri 60 meter, juara satu dimenangkan oleh Hasruni dari Sulawesi Selatan, 7.73 detik, juara dua Nia Fatul Aini dari Jawa Timur, 7.82 detik, disusul Sri Wahyuni dari Jawa Timur 7.89 detik. Untuk nomor yunior putri 60 meter dimenangkan Fitri Indah dari Jawa Timur, 7.66 detik disusul Siti Solikah darI Jawa Timur, 8.02 detik, dan Nurul Sofiah dari DKI Jakarta 8.03 detik.

Untuk nomor remaja putra 1000 meter dimenangkan oleh atlet dari Jawa Tengah, Slamet Wahyu Jati dengan kecepatan 2:43.87, sedangkan nomor 100 meter remaja putri dimenangkan oleh Aprilia Kartina dari Sumatera Barat dengan kecepatan 3:01.70.

Sementara untuk nomor estafet yunior dan remaja putra 4×400 meter dimenangkan oleh daerah asal Nusa Tenggara Barat dengan kecepatan 42.11 detik. Sedangkan untuk estafet yunior dan remaja putri 4×400 meter dimenangkan daerah Jawa Timur dengan kecepatan 47.66 detik.

Sedangkan perolehan medali dalam kejurnas atletik ini, daerah Jawa Timur unggul dengan perolehan medali terbanyak, yaitu 3 medali emas, 4 perak dan 3 perunggu.

Triyaningsih Dijagokan Rebut Tiket Olimpiade London 2012 Di Lomba Marathon

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) menargetkan dua nomor untuk lolos kualifikasi Olimpiade 2012 di London, September mendatang. Kedua nomor tersebut adalah maraton dan lompat jauh. “Pada nomor maraton, Triyaningsih dan pada nomor lompat jauh Maria Londa,” kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PB PASI Boedi Darma Sidi kemarin.

Semula PB PASI juga menargetkan nomor lari estafet untuk bisa lolos Olimpiade. Namun atlet andalan pada nomor estafet, Franklin Burumi, mengalami cedera yang cukup parah sehingga ia harus dioperasi. Boedi mengakui bahwa cederanya peraih dua medali emas di SEA Games XXVI itu membuat kondisi tim nasional estafet menjadi timpang. “Karena Franklin cedera kami tidak lagi menargetkan pada nomor estafet,” kata Boedi.

Hingga kini belum ada satu atlet pun yang sudah lolos kualifikasi olimpiade London. Sebanyak 13 atlet masih akan mengikuti dua kali kualifikasi agar bisa lolos ke Olimpiade London.

Kualifikasi tahap pertama akan dilangsungkan pada 8-14 Mei di kejuaraan Asian Grand Prix Atletik di Thailand. Kualifikasi tahap kedua yaitu pada turnamen atletik Taiwan Open, yang akan diselenggarakan pada 26-27 Mei mendatang. “Dari dua kejuaraan tersebut, akan kami seleksi 13 atlet itu,” kata Boedi.

Atlet yang ikut proses kualifikasi antara lain Maria Londa pada nomor lompat jauh dan lompat jangkit; Fadlin, Farel Oktaviandi, Fernando Lumain, Iswandi, dan Safwaturrahman pada nomor estafet dan perorangan; Triyaningsih pada maraton; Rini Budiarti pada lari halang rintang; Dedeh Erawati pada nomor lari gawang 100 meter; serta Agus Prayogo pada lari 5.000 meter.

Setelah dua kejuaraan tersebut, PB PASI akan melakukan evaluasi terhadap ketiga atlet itu. Dari hasil pada dua kejuaraan tersebut kemudian akan diseleksi siapa yang pantas masuk Olimpiade. “Dari 13 orang tersebut, nanti akan ada yang terdegradasi,” Boedi menambahkan.

Atlet-atlet yang lolos pada tahap evaluasi atau tidak terdegradasi kemudian akan diikutsertakan pada kejuaraan di Eropa pada awal Juni nanti. Inilah yang akan menjadi tahap akhir kualifikasi. Adapun batas akhir pendaftaran Olimpiade adalah 7 Juli 2012.

Pelari Pelari Asal Kenya Mendominasi Perlombaan Bali Marathon 2012

Pelari Kenya bernomor dada 3, Lilan Kennedy Kiproo, membuktikan kehebatan kakinya dalam lomba lari BII Maybank Bali Marathon dengan menempuh rute sejauh 42,195 kilometer di Gianyar, Bali, 22 April 2012. Ia menoreh catatan waktu 02:16:54 dan berhak menerima hadiah sebesar US$ 20 ribu.

Pelari Kenya lainnya berada di urutan kedua, Luke Kipkemoi Chelimo, dengan catatan waktu 02:17:00 dan meraih hadiah US$ 15 ribu. Urutan ketiga pun diraih pelari Kenya, Wilson Chepkwony, dengan waktu 02:18:23 dan meraih US$ 10 ribu.

Di bagian putri, Kenya juga mendominasi lewat pelari Winfridah Kwamboka (2:42:48) disusul Elizabeth Jeruiyot (02:43:35). Adapun urutan ketiga ditempati pelari Kanada, Kari Elliot (03:07:13). Hadiah untuk pelari putri persis sama dengan pelari putra. Hadiah diserahkan oleh Presiden Direktur BII Dato’ Khairussaleh bin Ramli dalam award ceremony di Race Central, Bali Safari & Marine Park, Gianyar.

Adapun untuk maraton kategori Indonesia putra dimenangkan oleh IG Gede Karangasem (02:38:39), disusul oleh M. Ishari (02:51:19) dan Novi Gunawan (03:11:33) di urutan kedua dan ketiga. Para pemenang itu masing-masing mendapat US$ 3.500, US$ 2.000, dan US$ 1.000. Adapun pada bagian putri dimenangkan oleh Supriati Sutono (03:07:50), di urutan kedua Erni Ulatningsih (03:11:28), dan Novita Andriyani (03:39:44) di tempat ketiga.

BII Maybank Bali Marathon yang mengusung tema “Push Your Limit” ini dilaksanakan pada pukul 05.00 WIT, dengan garis start dan finis di Bali Safari & Marine Park, Gianyar. Acara ini diikuti lebih dari 2.000 pelari profesional dan penggemar olahraga lari.

Kategori yang dilombakan full marathon 42,195 kilometer dan half marathon 21,0975 kilometer, dan 10 kilometer (10 K). Masyarakat sekitar Gianyar menyambut dan menyemangati para pelari yang melintasi rute BII Maybank Bali Marathon.

Lomba ini telah mendapatkan sertifikasi dari International Measurement Certificate number INA2012/009, baik untuk full marathon, half marathon, dan 10 K dari Association of International Marathons and Distance Races (AIMS) dengan International Measurement Administrator Dave Cundy, yang memiliki grade A IAAF-AIMS course measurer.