Category Archives: Olahraga

Rifat Sungkar Berhasil Kibarkan Merah Putih Dalam Kejuaraan Reli Asia Pasifik Di Noemea

Pereli Rifat Sungkar mampu mengibarkan sang saka Merah Putih di Kota Noemea, Kaledonia Baru, setelah menjadi juara Seri Noemea Kejuaraan Reli Asia Pasifik (APRC) 2010.

”Saya senang bisa mencapai hasil terbaik pada Seri Noemea ini. Tentu dalam dua seri tersisa saya harap bisa mencapai hasil yang sama,” tutur Rifat dari tim Pertamina Premix XP, Minggu (29/8).

”Kami sangat bangga dengan Rifat sebagai juara satu APRC. Dengan begitu, lagu ’Indonesia Raya’ bisa berkumandang di Kaledonia,” kata Sulisto dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kaledonia Baru.

Seperti pada hari kedua (Sabtu, 28/8) kemarin, pasangan Rifat dan Scott Bechwith, navigatornya asal Australia, secara keseluruhan berada pada urutan kedua. Rifat berada di bawah Braden Reeyes, pereli dari Australia. Namun karena Reeyes tidak tercatat sebagai peserta APRC 2010, Rifat dan Bechwith-lah yang berhak naik podium sebagai juara Seri Noemea APRC 2010.

Menabrak

Rifat dan Bechwith, menurut ayahnya, Helmy Sungkar, yang juga mantan pereli Indonesia, hari Minggu sempat menabrak pada special stage (SS) terakhir.

Pada hari terakhir, semua peserta wajib menyelesaikan enam SS dengan total 246,64 kilometer. Berarti semua peserta Seri Noemea harus menyelesaikan 17 SS. Pada hari pertama harus menempuh 4 SS (26 km). Hari keduanya menempuh 9 SS dengan panjang 360,21 km.

”Pada special stage terakhir siang waktu Noemea itulah Rifat mengalami kecelakaan yang memaksa dirinya berikut Bechwith harus mengganti ban kendaraan mereka hingga tiga kali,” tutur Helmy.

Rifat Sungkar Berada di Urutan Kedua Seri Noumea Reli Asia Pasifik

Rifat Sungkar, pereli Indonesia dari tim Pertamina Premix XP, bersama navigatornya, Scott Bechwith, dari Australia, berada di urutan kedua pada Seri Noumea Kejuaraan Reli Asia Pasifik (APRC) 2010.

Seri Noumea ini berlangsung mulai hari Jumat (27/8) hingga Minggu ini di kota Noumea, Kaledonia Baru.

Pada hari pertama (Jumat), yang harus menyelesaikan empat special stage (SS) dengan panjang total 26 kilometer, pasangan Rifat dan Bechwith mampu berada di urutan pertama.

Namun, pada hari kedua yang berlangsung hari Sabtu kemarin, Rifat hanya mampu berada di urutan kedua.

Beruntung pereli di urutan pertama, Braden Reeyes, dari Australia tidak masuk dalam daftar peserta Kejuaraan Reli Asia Pasifik (APRC) 2010. Dengan begitu, sekalipun berada di urutan kedua, untuk lomba APCR, Rifat berada di posisi pertama.

”Pada hari kedua ini kami harus menyelesaikan sembilan SS yang mencapai 360,21 kilometer. Besok pada hari terakhir (Minggu), kami masih harus menyelesaikan enam SS lagi, atau sekitar 246,64 kilometer,” kata pereli nomor satu Indonesia itu.

Makassar batal

Menyinggung tentang rencana berikutnya setelah Seri Noumea di Kaledonia Baru, menurut Rifat, akan dilanjutkan ke Seri Makassar, Indonesia, bulan September mendatang serta Seri Longyu, China, Oktober mendatang.

”Hanya, sayangnya, Seri Indonesia yang seharusnya berlangsung 26 September mendatang, saya dengar pelaksanaannya telah dibatalkan oleh Bloedus Management Indonesia, selaku penyelenggara,” ungkap Rifat.

Menurut Rifat, kalau memang berita pembatalan Seri APRC Indonesia tersebut benar, tidak hanya masalah reputasi Indonesia yang tercoreng. ”Kan, untuk bersaing menjadi juara, tiap pereli harus mengikuti minimal enam seri,” katanya. Padahal, Rifat baru ikut Seri Malaysia, Selandia Baru, Australia, dan Kaledonia Baru. Dua sisanya diharapkan ikut di Indonesia dan China.

Hikmah Inspirasi dan Semangat Dari Olympiade

Hari Minggu, tanggal 8 Agustus lalu, China memperingati dua tahun Olimpiade Beijing dengan menggelar sejumlah acara di sekitar Stadion Sarang Burung (Bird Nest). Diberi tajuk ”From Olympic City to World City”, China bukan sekadar ingin mengenang mega-sukses penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008. Rangkaian festival olahraga dan simposium itu tak pula sekadar ingin mengenang direbutnya supremasi olahraga dunia dari tangan Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Lebih dari itu, mereka ingin memelihara semangat olimpiade yang mempersatukan China dalam sebuah entitas bangsa yang sehat, utuh, dan kuat.

Dua tahun setelah upacara pembukaan paling memesona sepanjang sejarah olimpiade, Stadion Sarang Burung tetap menjadi simbol dominasi China dalam dunia olahraga. Pada hari Minggu yang terik menyengat itu, ratusan ribu manusia menyemut dan melakukan aneka kegiatan olahraga di sekitar stadion nasional yang dibangun dengan biaya hampir setengah miliar dollar AS tersebut. Meski berdesakan dan hampir tak ada sejengkal tanah yang cukup leluasa untuk digunakan bergerak, kegembiraan jelas tergambar di wajah-wajah mereka yang bermandi peluh.

”Kehebatan China bukan saja mereka mampu menggelar olimpiade dengan sukses, tetapi lebih dari itu mereka mampu mempertahankan spirit olimpiade. Olahraga sudah menjadi darah dan daging masyarakat China,” ujar Rita Subowo, Ketua KONI-KOI yang juga anggota eksekutif Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Indonesia, sambung Rita, tertinggal sangat jauh dalam semangat ini. ”Jika tidak ada langkah yang benar-benar strategis dan konkret, terutama kemauan politik dari pemerintah, olahraga Indonesia akan semakin tertinggal karena negara seperti China sudah ’berlari’, bahkan dengan sangat cepat,” tutur Rita sembari memandang Stadion Sarang Burung yang megah.

Olimpiade Beijing 2008 memang salah satu tonggak terpenting bagi China, bangsa yang punya tradisi kuat berusia ribuan tahun. Saat itu, untuk pertama kalinya China merontokkan hegemoni Amerika Serikat dan negara Barat dalam dunia olahraga. Perjalanan China menjadi penguasa dunia olahraga dimulai lebih dari 40 tahun lalu saat bapak bangsa China, Mao Zedong memimpin Revolusi Kebudayaan. Tampil sebagai figur terdepan bagi kelas pekerja China yang selama 100 tahun lebih memerangi imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme, Mao meletakkan olahraga sebagai salah satu pilar pembangunan China untuk menjadi bangsa terhormat dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain.

Meski wafat pada 1976, lebih kurang satu dekade setelah meletakkan olahraga sebagai salah satu pilar pembangunannya, bangsa China memelihara pesan yang disampaikan Mao. Ribuan fasilitas olahraga dibangun di hampir semua provinsi. Kegiatan olahraga sangat subur mulai dari tingkat keluarga, sekolah menengah, hingga universitas. China melahirkan atlet-atletnya lewat kegiatan kompetitif mulai dari tingkat kelurahan, provinsi, hingga nasional, sampai kemudian mereka mengukuhkan dominasinya di Beijing 2008.

Presiden IOC Jacques Rogge mengatakan, sukses China bukan sekadar pada penyelenggaraan Beijing 2008, atau prestasi medali, tetapi juga pada keberhasilan bangsa ini meletakkan fondasi Gerakan Olimpiade (Olympic Movement). ”Belum pernah terjadi sebelumnya, jiwa dan raga anak-anak di seluruh dunia begitu tersentuh oleh semangat nilai-nilai olimpiade,” ujar Rogge.

Indonesia, sebagai bangsa, tentu saja tak perlu meniru revolusi kebudayaan atau ideologi Mao Zedong untuk bangkit dalam bidang olahraga dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain dalam pergaulan internasional. Sejarah membuktikan, Indonesia bukanlah bangsa inferior dalam tata pergaulan olahraga internasional. Kita pernah menjadi pemimpin informal lewat Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada era Bung Karno. Pada era Orde Baru pun Indonesia mengalami masa-masa keemasan baik di olimpiade, Asian Games, terlebih SEA Games.

Meski demikian, seusai mengalami malapetaka krisis ekonomi 1998 dan setelah 65 tahun merdeka, Indonesia belum mampu kembali berdiri sama tegak dalam prestasi olahraga. Kalaupun China sudah berlari sangat kencang dan sulit terkejar, Indonesia masih harus berjuang keras mengembalikan supremasinya di regional Asia Tenggara yang selama dua dekade lebih sejak 1977 menjadi ajang unjuk kehebatan atlet-atlet ”Merah Putih”.

Patut ditiru

Semangat memelihara warisan olimpiade yang dilakukan China sepertinya harus ditiru dalam kehidupan keseharian bangsa Indonesia. Dimulai dari keluarga, olahraga harus dimulai sejak usia dini, diperkenalkan, dicintai, dan secara gradual berkembang menjadi kebiasaan (habit). Pada kongres IOC, Juni lalu di Jyvaskyla, Finlandia, yang khusus membahas ”Sports for All”, salah satu rekomendasi yang ditelurkan adalah keluarga harus menjadi figur panutan (role model) dan memberikan pengaruh positif dalam kegiatan jasmani, baik di sekolah maupun di komunitas lingkungan terdekat.

Jika dikaitkan dengan komunitas terdekat, lingkungan di sekitar rumah, baik di perkotaan maupun pedesaan, sebagian harus didedikasikan untuk fasilitas olahraga. Peran pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga adalah melakukan lobi tingkat tinggi, misalnya kepada Kementerian Dalam Negeri agar pemerintah-pemerintah daerah menerapkan dengan tegas peraturan tentang penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial serta ruang terbuka hijau, bagi pengembang perumahan.

Dalam kaitan lingkungan sekolah, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional punya peran yang tak kalah strategisnya. Menurut Rita Subowo, Deklarasi Jyvaskyla menyerukan agar pemerintah membangun kurikulum pendidikan yang memberikan lebih banyak ruang dan waktu bagi pendidikan jasmani. ”Pemerintah juga harus proaktif dalam memberikan informasi tentang manfaat kegiatan jasmani.”

Lebih dari 40 tahun lalu, Mao Zedong punya keyakinan kuat bahwa bangsa China yang sehat akan menghasilkan rakyat yang produktif dan negara tidak banyak terbebani oleh ongkos kesehatan yang sangat mahal. Sumber daya Indonesia pastilah tidak kalah, bahkan kemajemukan dan keanekaragaman budaya yang kita miliki jauh lebih kaya dengan masing-masing punya keunggulan yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain, bahkan China sekalipun.

Maka, berangkat dari semangat ”bhineka tunggal ika”, berbeda-beda tetapi satu jua Indonesia, kita tinggal memetik hikmah dan inspirasi dari semangat olimpiade yang bukan saja milik warga Beijing, atau China, tetapi milik semua bangsa di muka bumi ini. Indonesia punya segala-galanya untuk berprestasi dalam olahraga, sejajar dengan bangsa lain di semua bidang kehidupan.

Deco Cari Tantangan di Tanah Kelahirannya Setelah Bosan Bermain Di Liga Eropa

Pemain tengah veteran Deco yang lahir di Brasil memutuskan mencari tantangan baru di tanah kelahirannya setelah malang melintang di liga-liga Eropa sekitar 13 tahun. Pemain keturunan Brasil berwarga negara Portugal ini masih menyisakan satu tahun kontrak dengan Chelsea sebelum menandatangani kontrak selama dua tahun dengan klub papan atas liga Brasil, Fluminense.

Deco merasa Fluminense merupakan tim terakhir yang ia bela sebelum dirinya memutuskan untuk gantung sepatu. Ia memutuskan meninggalkan Stamford Bridge dan kembali ke tanah kelahirannya karena sudah merasa tidak nyaman bersama Chelsea. Pemain timnas Portugal ini membutuhkan tantangan baru yang mampu mendongkrak motivasinya seiring dengan waktu yang semakin dekat dengan masa pensiun.

”Bermain di Brasil merupakan sebuah tantangan dan saya suka tantangan. Saya tidak memperoleh itu lagi di Chelsea” ujar Deco saat diperkenalkan kepada media oleh Fluminense, Senin (9/8).

”Saya akan mencoba menikmati ini karena di (Eropa) saya tidak merasa bahagia lagi sebagai pemain.”

Deco mengawali karier profesionalnya sebagai pemain sepak bola bersama klub Brasil, Corinthians. Namun, pemain tengah berusia 32 tahun itu hanya tampil dalam dua laga bersama Corinthians sebelum pindah ke klub Portugal, Benfica, dan kemudian berlabuh di klub elite Portugal lainnya, FC Porto. Penampilannya semakin cemerlang dan pernah membela Barcelona sebelum singgah di Chelsea.

Deco merasakan juara Liga Champions bersama FC Porto dan Barcelona. Bersama Chelsea, ia menikmati kegembiraan menyabet juara Liga Primer.

Karier profesional Deco bisa dikatakan dimulai dari bawah. Nama Deco nyaris tidak dikenal saat meninggalkan Brasil dan mulai meniti karier di klub-klub Eropa. Namanya mulai mencuat setelah bergabung dengan FC Porto. ”Satu hal yang terlewatkan adalah kembali ke Brasil dan sekarang sudah terpenuhi,” ujar Deco.

Keputusan kembali ke Brasil berdampak pada penurunan gaji dibandingkan saat bersama klub milik Roman Abramovich. Deco dikabarkan oleh media massa Brasil digaji sekitar 5 juta dollar Amerika Serikat, sekitar Rp 44,6 miliar, selama setahun.

Bayaran itu termasuk nomor dua tertinggi di liga Brasil setelah Ronaldo yang digaji 11 juta dollar AS (Rp 98,2 miliar) oleh Corinthians. Para pemain di liga Brasil yang digaji tinggi antara lain bek veteran Roberto Carlos dan Robinho saat dipinjamkan ke Santos oleh Manchester City.

”Saya kembali bukan untuk mencari uang. Saya kembali untuk mencari tantangan,” kata Deco tegas.

Banyak Perusahaan Yang Mau Menjadi Sponsor Olahraga dan Seni

Kementerian Badan Usaha Milik Negara tengah merumuskan kebijakan untuk mengalokasikan dana corporate social responsibility serta program kemitraan dan bina lingkungan perusahaan BUMN bagi pembinaan olahraga dan seni. Draf peraturan Menteri BUMN terkait hal tersebut tengah dirumuskan.

Hal itu diungkapkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Senin (9/8) di Jakarta. ”Permentan sedang dirumuskan. Persentase dana CSR dan PKBL untuk pembinaan olahraga dan seni juga masih dirumuskan,” katanya.

Menurut Mustafa, dalam rangka mendukung kemajuan dunia olahraga dan seni di Tanah Air, pihaknya telah melakukan penandatangan nota kesepahaman (MOU) dengan Menteri Pemuda dan Olahraga saat di Malang serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata di Tampak Siring, Bali.

Di bidang olahraga, peran perusahaan BUMN tak akan menggantikan organisasi olahraga yang ada, tetapi sebagai pendukung. Pembinaan dilakukan, baik terhadap cabang olahraga maupun untuk atlet-atlet yang berprestasi.

Tahun 2009 laba perusahaan milik pemerintah di bawah Kementerian BUMN mencapai Rp 78 triliun atau di atas target Rp 70 triliun. Adapun total dana yang disalurkan BUMN ke seluruh PKBL di Indonesia pada 2010 ini mencapai Rp 2,6 triliun. Dana CSR yang nilainya triliunan juga menjanjikan.

Dengan kebijakan baru itu, BUMN nantinya bisa memberikan dukungan lebih kepada tiap-tiap cabang olahraga, baik dalam berbagai tingkat kejuaraan nasional. Selama ini beberapa perusahaan BUMN memang sudah memulainya, seperti BRI, PT Telkom, ataupun PT Kereta Api Indonesia

Permainan Bilyar Dilarang Selama Bulan Puasa Karena Dianggap Hiburan Bukan Olahraga

Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia Riau prihatin atas perintah Wali Kota Pekanbaru menutup semua rumah biliar selama bulan puasa. Rumah biliar dikategorikan sebagai tempat hiburan umum, sama seperti tempat karaoke, pub, dan kafe.

”Kami kecewa biliar masih dikategorikan sebagai tempat hiburan umum. Padahal biliar di seluruh Tanah Air sudah menjadi salah satu olahraga favorit. Biliar bahkan dipertandingkan secara luas di dunia. Riau yang akan menjadi tuan rumah PON 2012 pun mempertandingkan cabang olahraga ini,” kata Boobie Purbowo, Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (Pengprov POBSI) Riau yang dihubungi, Selasa (10/8) di Pekanbaru.

Ungkapan keprihatinan Boobie berawal dari surat imbauan Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah bernomor No 451/2010/BPT/505. Surat itu menyebutkan, semua bentuk hiburan umum, seperti karaoke, pub, kafe, dan bola biliar, ditutup selama bulan Ramadhan, kecuali hotel-hotel berbintang yang memiliki fasilitas hiburan yang boleh buka pada pukul 21.00 sampai 02.00.

Boobie menambahkan, surat Wali Kota Pekanbaru memang berupa imbauan, tetapi merujuk Perda Kota Pekanbaru Nomor 2 Tahun 2002 yang mewajibkan seluruh lokasi tempat hiburan wajib tutup selama bulan puasa.

Bina 27 klub

Menurut Boobie, saat ini Pengprov POBSI Riau membina 27 klub biliar yang sebagian besar berada di kota Pekanbaru. Klub-klub itu berada di rumah- rumah biliar yang wajib ditutup selama bulan puasa itu.

”Setiap klub membina beberapa atlet andalan Riau. Pada Agustus ini, kami akan melakukan pelatihan dengan mendatangkan pelatih dari Filipina untuk kebutuhan Pekan Olahraga Daerah Riau yang berlangsung pada September. Pada Oktober nanti, Pekanbaru akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Biliar. Kami berharap jadwal latihan tidak akan terganggu karena imbauan Wali Kota itu,” kata Boobie.

Secara terpisah, Ketua Bidang Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia Riau Raja Isyam Azwar menyayangkan rumah biliar masih dikategorikan sebagai tempat hiburan. Sudah saatnya, perda yang menggolongkan biliar sebagai lokasi hiburan direvisi dan menjadikan biliar sebagai cabang olahraga sama seperti olahraga lain.

”Namun, bukan berarti Pemkot Pekanbaru tidak berhak mengawasi rumah biliar. Tidak dapat dimungkiri tidak sedikit rumah biliar di Pekanbaru yang sengaja didesain remang-remang sehingga menyuburkan praktik judi. Namun, kalau untuk keperluan olahraga, saya harap Pemkot Pekanbaru justru ikut membantu,” kata Raja.

Boobie tak menampik adanya beberapa rumah biliar yang bermasalah di Pekanbaru. Namun, lebih dari 70 persen dari rumah biliar yang ada sudah menjadi lokasi olahraga untuk penyaluran bakat anak-anak muda.

”Tidak gampang mencari atlet biliar di Riau. Saat ini olahraga biliar sedang bangkit dan kami membutuhkan lebih banyak atlet untuk ajang PON 2012 nanti. Kami berharap Pemkot Pekanbaru dapat mengerti,” kata Boobie

Pemain Muda Tekuk Nadal/Djokovic Dalam Turnamen Tenis Toronto Master

Pasangan petenis muda asal Kanada, Vasek Pospisil and Milos Raonic, membuat kejutan di babak pertama turnamen tenis Toronto Master, Selasa (10/8). Pemain wild card tersebut menekuk pasangan papan atas dunia, Rafael Nadal/Novak Djokovic, 5-7, 6-3, 10-8.

Pospisil (20) dan Raonic (19) bermain pantang menyerah. Kalah 5-7 di set pertama, mereka kemudian berbalik unggul pada set kedua 6-3. Mereka mampu meladeni permainan reli Nadal dan Djokovic serta berkali-kali membuat kedua pemain papan atas dunia itu pontang-panting.

Pada set ketiga pasangan muda ini tetap bisa mengontrol jalannya pertandingan. Mereka sempat membuat empat kali match poin pada kedudukan 9-5, sebelum Djokovic dan Nadal memperkecil kedudukan menjadi 9-8.

Pada kedudukan itu giliran Nadal/Djokovic yang tiga kali mempunyai kesempatan emas. Namun, kesempatan itu gagal dimanfaatkan dan pertandingan berakhir 10-8 untuk pasangan muda Kanada. Di babak kedua, Pospisil/Raonic akan menghadapi juara Wimbledon dan unggulan kelima, Jurgen Melzer/Philipp Petzschner.

Penampilan petenis tunggal nomor satu dunia dan petenis nomor dua dunia dalam pasangan ganda merupakan hal yang cukup langka di dunia tenis. Sekitar 34 tahun lalu, petenis peringkat pertama dan kedua dunia, Jimmy Connors dan Arthur Ashe, pernah melakukan hal serupa. Namun, perpaduan tersebut tidak selalu berjalan sempurna.

Kegagalan juga dialami petenis top lainnya, Andy Muray (peringkat ke-4) dan Robin Soderling (ke-5). Andy Muray yang berpasangan dengan rekan senegaranya, Ross Hutchins, kalah dari pasangan Philipp Kohlschreiber dan Gael Monfils, 3-6, 2-6. Sementara Soderling yang berpatner dengan Jarkko Nieminen takluk dari pasangan Julien Benneteau/Michael Llodra, 6-3, 7-5.

Kejutan lain

Kejutan juga terjadi di tunggal putra. Pemain wild card tuan rumah, Peter Polansky, menaklukkan petenis unggulan ke-13 dari Austria, Jurgen Melzer, 7-6 6-4.

Polansky merupakan petenis yang mempunyai peringkat ke-207. Kemenangan ini menjadikannya sebagai petenis Kanada pertama yang menang atas pemain top 15 di negaranya sejak tahun 2003 ketika Simon Larose menghabisi Gustavo Kuerten.

”Saya banyak belajar dan berlatih dengan pemain-pemain papan atas. Karena itu, sejak awal pertandingan saya sudah punya keyakinan bisa menang dan berhasil,” kata Polansky.

Bagi Melzer, kekalahan ini menambah daftar panjang kegagalannya. Hasil ini merupakan kekalahan keempat secara berturut-turut di babak pertama dalam turnamen tenis.

Hasil positif didapat petenis unggulan ke-12 asal Rusia, Mikhail Youzhny, atas petenis Perancis Gilles Simon, 6-4 6-4. Pertandingan kedua pemain ini sempat tertunda 30 menit karena Simon terjebak kemacetan saat menuju stadion.

Laga keduanya juga sempat dihentikan sebanyak dua kali karena hujan turun. Setelah reda pertandingan dilanjutkan. Dengan adanya penundaan tersebut, pertandingan Youzhny dan Simon berlangsung lebih kurang delapan jam.

Hasil buruk juga dialami petenis Perancis lainnya, Richard Gasquet. Mantan finalis turnamen ini tersingkir di babak pertama dari petenis Ukraina, Sergiy Stakhovsky, 5-7, 1-6.

Sementara itu, petenis Argentina, Juan Ignacio Chela, menang 6-0 6-3 atas petenis Kolombia, Alejandro Falla. Selanjutnya, Chela akan menghadapi petenis nomor tiga dunia, Roger Federer.

Dari turnamen Cincinnati Open, petenis Serbia, Ana Ivanovic, harus berjuang susah payah untuk menyingkirkan unggulan ke-9, Victoria Azarenka, 2-6 7-6 6-2. Mantan petenis peringkat satu dunia, Dinara Safina, akan menghadapi petenis Belgia, Kim Clijsters.

Catatan Atlet Indonesia Belum Memukau Menurut Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas

Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas mengimbau pelatih nasional mau membuat buku catatan personal setiap atlet yang dilatih. Imbauan dilakukan karena sejak dikritik pada April 2010 hingga saat ini hanya sedikit pelatih yang mau repot dengan pembuatan catatan.

Kepala Kepelatihan Program Indonesia Emas (Prima) Paulus Pasurnay, Selasa (10/8) di Jakarta, menyatakan, pada April 2010 atau sebelum pelaksanaan pelatihan Prima para pelatih dikritik soal tak dibuatnya catatan personal atlet. Sampai sekarang tidak dibuatnya catatan itu masih terjadi. ”Kebanyakan pelatih menilai pembuatan catatan personal tentang program dan hasil latihan atau pertandingan setiap atlet yang ia latih masih sebagai tambahan pekerjaan,” ujarnya.

Paulus memastikan bahwa saat ini kurang dari 30 persen dari seluruh pelatih nasional yang mau membuat catatan personal. Padahal, catatan personal merupakan langkah sederhana kepelatihan yang menerapkan ilmu pengetahuan atau scientific coaching untuk mendapatkan atlet-atlet dengan performa bagus yang akan dikirimkan ke Asian Games 2010 ataupun SEA Games 2011.

Lewat catatan personal atlet, setiap pelatih mencatat data detail atlet yang ia latih. Catatan itu bisa berupa data program latihan, data hasil latihan, data hasil pertandingan terbaru, pencapaian atlet, serta data detail cabang olahraga yang dikuasai.

Paulus mencontohkan, untuk nomor renang 100 meter, misalnya, seorang pelatih harus tahu jumlah kayuhan yang mesti dibuat dari start sampai finis. Dari jumlah kayuhan yang dibuat dan hasil waktu, pelatih akan tahu kekurangan dan kelebihan atlet sehingga ia bisa membuat program latihan untuk memperbaiki fisik dan teknik atlet berdasarkan catatan personal. Itu juga berlaku bagi cabang tak terukur seperti bulu tangkis.

Sayang, pelatih masih abai dengan data. Akibatnya, ujar Paulus, saat atlet jeblok di sebuah pertandingan, pelatih tidak bisa membuat analisis dan kesimpulan atas kekalahan itu. Solusi yang diberikan pun sering tidak tepat. ”Padahal, di sinilah esensi scientific coaching secara sederhana itu,” ujarnya.

Gregory J Wilson, Manajer Program Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk Latihan Fisik, mengatakan, tidak adanya catatan personal membuat kemajuan fisik dan teknik atlet-atlet Indonesia kurang terpantau.

Menurutnya, federasi olahraga harus terlibat untuk mendorong pelatih mau memahami detail kemajuan fisik dan teknik lewat catatan personal. ”Kalau sekarang belum bisa, mereka harus mau untuk kemajuan jangka panjang,” ujar Gregory.

Muhammad Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI, menyatakan, setiap pelatih di PASI selalu ia pastikan membuat catatan personal atlet. Tujuannya ialah agar kemajuan latihan dan pertandingan terpantau untuk bisa menyusun target yang lebih tinggi.

Djafar E Djantang, manajer tim Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki), juga mengatakan, Forki sudah menyusun modul tentang kepelatihan. Namun, modul-modul itu baru bisa diterapkan awal tahun depan.

Yacob Rusdianto, Sekjen PB PBSI, memastikan para pelatih bulu tangkis membuat catatan personal atlet senior.

14 Atlet Indonesia Siap Mengharumkan Nama Bangsa Pada Youth Olympic Games

Sebanyak 14 atlet muda Indonesia dari tujuh cabang olahraga akan mengikuti Youth Olympic Games (ajang olimpiade bagi atlet-atlet muda) di Singapura pada 14-26 Agustus 2010. Indonesia menargetkan mendapat medali dari bulu tangkis dan angkat besi.

Tb Ade Lukman D, Ketua Kontingen Indonesia ke Youth Olympic Games (YOG) 2010, Selasa (10/8) pada acara pelepasan kontingen Indonesia ke YOG, mengatakan, YOG merupakan kejuaraan yang pertama kalinya diselenggarakan. Berlangsung pada 14-26 Agustus 2010 di Singapura, ajang kejuaraan bagi atlet muda itu diikuti 3.600 atlet muda dari 205 negara yang sebelumnya sudah lolos kualifikasi.

Mereka akan berlaga di 26 cabang olahraga yang dipertandingkan. Indonesia mengikuti kejuaraan di tujuh cabang, yaitu renang, bulu tangkis, angkat besi, tenis, taekwondo, panahan, dan balap sepeda.

Ke-14 atlet Indonesia yang akan berlaga di YOG adalah Fibriani Marita Ratna (renang), Pratama Siahaan (renang), Patrisia Yosita Hapsari (renang), Renna Suwarno (bulu tangkis), Evert Sukamta (bulu tangkis), Dewi Sawitri (angkat besi), Zainudin (angkat besi), Grace Sari Ysidori (tenis), Macho Virgonta Hungan (taekwondo), Erwina Safitri (panahan), Elga Kharisma Novanda (balap sepeda), Destian Satria (balap sepeda), Ongky Setiawan (balap sepeda), dan Suherman (balap sepeda). ”Selain aktif mengikuti pertandingan, kontingen Indonesia juga akan berpartisipasi dalam berbagai program kebudayaan dan pendidikan,” ujar Ade.

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Rita Subowo berkata, dari 14 atlet yang dikirim ke YOG, ia berharap mereka menunjukkan semangat, bertanding dengan percaya diri, dan pantang menyerah. ”Mereka juga harus menunjukkan prestasi di ajang YOG,” ujar Rita.

Gregory J Wilson, Program Manajer Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk Latihan Fisik menyatakan bahwa melihat perjalanan kualifikasi dan kondisi fisik ke-14 atlet, peluang paling besar bagi Indonesia untuk mendapat medali berasal dari dua cabang olahraga, yaitu dari bulu tangkis terutama dari Evert Sukamta (tunggal putra) dan dari Dewi Sawitri, cabang angkat besi.

Evert Sukamta menyatakan, ia siap berlaga di YOG. Ia merasa lebih percaya diri setelah menjalani masa persiapan selama tiga-empat bulan terakhir. Dari sisi teknik dan fisik, ia merasa siap. Ia melihat ada peluang karena atlet bulu tangkis yang dikirim China, Korea Selatan, ataupun Malaysia setara dengannya.

Kontingen Indonesia akan berangkat ke Singapura pada Kamis (12/8) dan kembali lagi hari Jumat

Mampukah Atlet Indonesia Kalahkan Karateka Iran

Uji teknik, taktik, fisik, dan nyali di atas matras telah rampung. Selama empat hari, tanggal 5-8 Agustus 2010, 26 karateka Indonesia bertarung di Kejuaraan Karate Asian Karatedo Federation Kadet dan Yunior Ke-10 di Hongkong. Hasilnya, 1 emas, 3 perak, dan 5 perunggu.

Peraih medali emas adalah Muhammad Zhaki Firdaus. Perak direbut Rakha Agung Suryandaru, Eva Fitria Setiawati, dan Angga Laksana. Adapun perunggu diraih Vina Aprilia, Sandy Firmansyah, Muhammad Riski, Ariski Dwi Prastya, serta tim tiga orang Eva, Ayu Rahmawati, dan Siti Maryam.

Hasil sembilan medali yang direbut melalui perjuangan yang tidak mudah itu termasuk bagus. Dari 28 negara yang mengikuti Kejuaraan Asian Karatedo Federation (AKF) ini, 15 negara memperoleh medali, dan Indonesia berada di urutan keenam.

Peringkat pertama diraih Iran dengan 11 emas, 6 perak, dan 7 perunggu. Jepang di urutan kedua dengan 10 emas, 2 perak, dan 4 perunggu. Kazakhstan di posisi ketiga dengan menggaet 2 emas, 4 perak, dan 8 perunggu. Urutan keempat ditempati Vietnam dengan 2 emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Adapun posisi kelima diraih Malaysia dengan 2 emas dan 7 perunggu.

Dalam sepuluh tahun kejuaraan AKF, baru pertama kali ini tim Indonesia mendapat emas. Kesempatan meraih emas lebih dari satu sebetulnya besar. Rakha, misalnya, berpotensi sangat besar. Permainannya di kategori kata nyaris sempurna, sayang ia panik sehingga gemetar. Lagi-lagi soal mental.

”Melihat hasil ini, kini tidak ada lagi yang ditakuti di Asia Tenggara. Untuk Asia, musuh yang sulit terkejar hanyalah Jepang dan Iran,” ujar Ketua Umum PB Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Hendardji Soepandji.

Indonesia terlena

Menurut Hendardji, bertahun-tahun Indonesia terlena, tidak memacu diri. Padahal 1970-an dan 1980-an, karate Indonesia pernah berjaya. Mempertahankan sesuatu memang jauh lebih sulit daripada merebut sesuatu yang belum pernah didapat.

Karate Indonesia pun terpuruk, sementara negara-negara lain di Asia Tenggara makin berkembang. Bahkan Malaysia pun mengalahkan Indonesia. Vietnam juga luar biasa mengejar prestasi di cabang ini. Terbukti, di AKF ini Malaysia dan Vietnam menggaet dua emas. ”Kita mungkin masih kalah sedikit dari Malaysia dan Vietnam, tetapi kita sudah melihat peta kekuatan lawan,” ujar Hendardji berkelit.

Pelatih tim karate kadet dan yunior Indonesia, Mursalim Bado’o, mengungkapkan, Indonesia melihat potensi atlet melalui kejuaraan-kejuaraan. ”Puncaknya di kejurnas. Atlet-atletnya dibawa dari perguruan atau dari pemda,” katanya.

Idealnya, sambung Mursalim, pembinaan harus menyinergikan antara keterampilan atlet dan sumber daya pelatih serta wasit. Tidak perlu banyak penataran wasit atau pelatih, tetapi mereka bisa membawa teknik-teknik dari luar negeri lantas menerapkannya di Indonesia. ”Perlu juga datangkan pelatih dari asing untuk kolaborasi,” ujarnya.

Menurut pelatih kepala tim putri Iran, Favokhnaz Avbab, Indonesia mampu menyusul Iran jika dibarengi tekad dan disiplin tinggi. Iran dulu juga memulai dari nol mengingat olahraga ini bukan berasal dari Iran. Bahkan Iran kini juga getol melatih atlet wushu dan mengirimkan sejumlah pelatih ke berbagai penataran wushu.

”Kami sangat disiplin. Atlet yang berminat di olahraga ini sangat banyak,” kata Favokhnaz, seraya menambahkan, Iran belum pernah mendatangkan pelatih asing. Para pelatihlah yang belajar ke luar negeri lalu menerapkan ilmu yang mereka dapat di Iran. ”Sekarang, kami sudah mengirim pelatih karate ke sejumlah negara, seperti Hongkong, Qatar, Makau, Kuwait, dan masih banyak lagi,” sambung Favokhnaz.

Jadi, mampukah Indonesia mengejar Iran?