Category Archives: Tinju

Baju dan Sarung Tinju Muhammad Ali Laku Terjual Masing Masing Rp. 4,5 Milyar

Sepasang sarung tangan tinju yang dikenakan Muhammad Ali sewaktu menghadapi Joe Frazier pada 1971 lampau laku terjual 388.375 dollar AS atau sekitar Rp 4,5 miliar dalam sebuah acara lelang. Pemenang lelang yang diadakan di Cleveland, Amerika Serikat, itu hingga kini dirahasiakan identitasnya.

Meski terbilang mahal, tetapi harga sarung tinju Ali tersebut masih kalah jauh jika dibandingkan dengan harga sepasang sarung tinju yang pernah dikenakan Ali saat pertama kali memenangi kejuaraan dunia. Sarung tinju termahal itu dihargai 836.500 dollar AS atau Rp 9,8 miliar.

Sarung tinju yang dikenakan Ali saat melawan Frazier sarat dengan nilai sejarah. Laga antara Ali dan Frazier kala itu dijuluki Fight of the Century atau “Pertarungan Abad Ini”. Pada akhir pertandingan Frazier menaklukkan Ali dan menjadi juara tinju kelas berat dunia. Namun, baku pukul kedua petinju tersebut belum berakhir. Dalam dua laga selanjutnya, yaitu pada 1974 dan 1975, Ali menundukkan Frazier sekaligus menguatkan predikatnya sebagai petinju terbaik sepanjang masa.

Pertarungan Ali melawan Frazer pada 1971 menjadi salah satu momen olahraga yang dikenang baik dalam aspek tinju maupun politik. Kala itu, semua gelar Ali dicopot karena dia menolak masuk wajib militer semasa perang Vietnam. Sebuah baju atau jubah bertanding milik petinju legendaris Muhammad Ali diperkirakan akan laku sekitar 500 juta rupiah dalam sebuah lelang online.

Baju ini pernah dikenakan Muhammad Ali saat mempertahankan gelar juara dunia tinju kelas berat menghadapi Jimmy Young pada 1976 lalu. Menurut lembaga lelang, SCP, yang berbasis di Laguna-Niguel, California, jubah Muhammad Ali tersebut dalam keadaan seperti saat masih dikenakan si “Mulut Besar”.

Namun, jubah Muhammad Ali ini bukanlah “bintang” dalam acara lelang yang akan berlangsung 20 November hingga 7 Desember ini. Harga terbesar diperkirakan akan jatuh pada medali emas milik atlet AS, Jesse Owens, yang diraihnya di Olimpiade Berlin pada 1936.

Kehadiran dan kemenangan Jesse Owens pada Olimpiade Berlin 1936 dianggap sangat fenomenal. Owens “mempermalukan” pemimpin Nazi, Adolf Hitler, yang saat itu menggunakan ajang Olimpiade untuk menunjukkan keunggulan ras aria atau kulit putih. Owens meraih empat medali emas di Berlin pada nomor 100 dan 200 meter, estafet 400 meter, dan nomor loncat jauh.

Chris John Berhenti Bertinju Karena Penurunan Kondisi Fisik

Petinju Indonesia Chris John akhirnya memutuskan mundur dari dunia tinju setelah gagal mempertahankan gelar juara kelas bulu WBA saat kalah dari petinju Afrika Selatan Simpiwe Vetyeka di Australia, awal Desember 2013.

Petinju dengan rekor bertarung 48 kali menang (22 di antaranya dengan KO), tiga kali seri, dan sekali kalah, ketika dihubungi dari Semarang, Kamis, 19 Desember 2013, mengatakan dari pertandingan terakhir (melawan Simpiwe Vetyeka), dirinya merasa fisiknya sudah menurun.

“Dari pertarungan terakhir, saya merasa fisik saya sudah mulai menurun dan mungkin juga faktor usia,” kata ayah dari Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani tersebut.

Menurut petinju kelahiran Jakarta, 14 September 1979, tersebut, seperti yang dia utarakan sebelumnya, dia dirinya akan pensiun pada usia 35-an tahun. “Saat ini saatnya saya untuk mundur,” katanya.

“Saya sudah konsultasi dengan Craig Christian (pelatih Chris John) dan ia mendukung semua keputusanku karena kondisi badanku yang tahu ya saya sendiri,” katanya.

Menyinggung rencana ke depan, petinju asal Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, tersebut mengatakan, sampai kini dia belum ada rencana. “Nanti saya dan manajemen akan bicara lebih lanjut,” katanya. (Berita Soal Chris John Klik di Sini)

Chris John menjadi juara dunia kelas bulu (57,1 kilogram) setelah mengalahkan petinju Kolombia Oscar Leon melalui pertarungan ad-interim di Bali, 26 September 2003.

Setelah itu, Chris John berhasil mempertahankan gelarnya sebanyak 18 kali. Dari 18 kali mempertahankan gelar tersebut, lima di antaranya melalui pertarungan wajib atau mandatory fight yaitu melawan Jose Cheo Rojas (Venezuela), Derrick Gainner (Amerika Serikat), Juan Manuel Marquez (Meksiko), Roinet Caballero (Panama), dan Hiroyuki Enoki (Jepang).

Bahkan, setelah mengalahkan Hiroyuki Enoki di Jepang, 24 Oktober 2008, Chris John berhak menyandang gelar Super Champions kelas bulu WBA karena berhasil mempertahankan gelar sebanyak 10 kali tanpa putus.

Kemenangan lain (15 kali) dalam mempertahankan gelar dia dapat melalui pertarungan pilihan atau choice. Dia juga meraih tiga kali hasil seri, yaitu saat melawan Jose Cheo Rojas (Venezuela), Rocky Juarez (Amerika Serikat), dan Satoshi Hosono (Jepang).

Pertarungan pilihan Chris John yang berakhir dengan kemenangannya di antaranya saat melawan Osamu Sato (Jepang), Tommy Brouwn (Australia), Renant Acosta (Panama), Zaiki Takemoto (Jepang), Fernando David Saucedo (Argentina), Daud Yordan (Indonesia), Stanyslav Merdov (Ukraina), Shoji Kimora (Jepang), dan Chonlatarm Piriyapinyo (Thailand).

Pada pertarungan terakhir di Metro City, Perth, Australia Barat, Australia, 6 Desember 2013, Chris John gagal mempertahankan gelarnya setelah kalah TKO di ronde keenam (tidak melanjutkan pertarungan pada ronde ketujuh).

Golovkin Petinju Terbaik Pengganti Muhammad Ali

Di sebuah tembok sasana Abel Sanchez di Big Bear, California terpasang sejumlah nama-nama petinju legendaries dunia. Pada urutan pertama, tertulis nama Muhammad Ali sang legenda. Namun sang pemilik sasana justru tidak mencantumkan nama petinju di nomor urut kedua.

Ternyata Sanchez sudah menyiapkan satu nama utuk mengisi nomor kedua di bawah Muhammad Ali. Ia memprediksi Gennady Golovkin bakal menjadi petinju terbaik kedua setelah Muhammad Ali. Mungkin Sanchez berlebihan jika menyandingkan petinju asal Kazakhtan itu setelah Ali, namun ia percaya dengan kemampuan Golovkin.

“Dia termasuk salah satu petinju terbaik saat ini,” kata Sanchez. Tom Loeffler, promoter Golovkin, pun setali tiga uang dengan Sanchez. Tom mengatakan menjadi petinju nomor satu dunia tidak hanya cita-cita Golovkin tapi juga semua tim yang mendukungnya.

“Tugas kami ialah membantu Golovkin meraih tujuan itu,” kata Tom. Menurut dia, Golovkin merupakan seorang atlet yang spektakuler dan ia pantas meraih gelar sebagai petinju terbaik di kelasnya.

Tom menilai, berbagai kemenangan yang diraih Golovkin sepanjang karir tinju profesionalnya tidak lepas dari kemampuan teknik bertinjunya yang mematikan. “Dia memiliki aspirasi dan kemampuan untuk mencetak sejarah di arena tinju,” ucap Tom.

Untuk sementara waktu penilaian Sanchez dan Tom belum meleset. Beberapa waktu lalu, US Today memilih Golovkin sebagai petinju terbaik tahun 2013. Petinju bernama lengkap Gennady Gennadyevich Golovkin ini sukses mempertahankan rekor kemenangannya menjadi 28 kali dengan 25 diantaranya diraih melalui knock out.

Kemenangan ke-28 petinju yang dikenal dengan nama GGG diraih setelah mengandaskan Curtis Steven asal Amerika Serikat November silam di ronde delapan. Menilai kemenangan itu, Sanchez mengatakan Golovkin merupakan petinju dengan karakter yang menyerang. “Dia punya pukulan yang kuat dan itu datang dari seorang yang secara fisik sangat bagus,” kata Sanhcez.

Lebih lanjut, Golovkin akan kembali naik ke atas ring tinju. Ia akan menghadapi petinju Jepang, Osumanu Adama. Pertandingan dijadwalkan akan berlangsung di Monte Carlo pada Februari 2014. Tom Loeffler mengatakan, Golovkin akan terus aktif bertanding mempertahankan gelar juaranya. “Ia sangat mengharapkan bisa bertemu dengan petarung tangguh,” ucap Tom.

Nama Gennady Golovkin
TTL : Karaganda, Kazakhstan 8 April 1982
Kelas menengah
Tinggi 179 cm
Jangkauan 178 cm
Rekor kemenangan 28(25KO)

Manny Pacquiao Menang Mutlak Dalam Tarung Ulang Melawan Timothy Bradley

Petinju Filipina Manny Pacquiao kembali merebut gelar juara dunia kelas welter versi WBO dari tangan juara bertahan Timothy Bradley. Dalam pertarungan ulang di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas, Amerika Serikat, Ahad siang, 13 April 2014, waktu Indonesia, Pacquiao dinyatakan menang angka mutlak. Ketiga juri memberi angka kemenangan bagi Pacquiao, yakni 116-112, 116-112, dan 118-110.

Dalam pertarungan pertama pada 9 Juni 2012 lalu, Bradley, yang lima tahun lebih muda daripada Pacquiao, menang angka. Namun kemenangan itu dianggap kontroversial oleh kalangan peminat tinju dunia. Bradley pun gagal membuktikan keunggulannya atas Pacquiao siang ini. Petinju Amerika Serikat ini juga harus rela mengalami kekalahan pertamanya. Rekor tanding Bradley kini menjadi 31-1, dengan 12 kemenangan KO. Adapun Pacquiao menorehkan rekor 56-5, dengan 38 KO.

Seusai pertandingan, Bradley berujar kepada Pacquiao, “Selamat, Anda pantas mendapatkan gelar itu.” Dari data yang dilansir Associated Press, 35 persen dari 563 pukulan Pacquiao sukses mendarat di tubuh Bradley. Sedangkan Bradley hanya mendaratkan 22 persen dari 627 pukulan yang dilepaskan.

Manny Pacquiao, 36 tahun, mantan juara dunia pada delapan kelas berbeda ingin membuktikan ia masih memiliki naluri “membunuh” dan lapar kemenangan. Hal itu dia tegaskan menjelang pertarungan ulang melawan petinju AS yang pernah mengalahkannya, Timothy Bradley, di MGM Grand, Grand Garden Arena, Las Vegas, Nevada, AS, Sabtu malam waktu setempat, 12 April 2014, atau Ahad pagi WIB, 13 Arpil 2014.

“Saya harus membuktikan kepadanya (Bradley) dan diri saya sendiri bahwa saya masih memiliki naluri membunuh dan lapar (kemenangan),”kata Pacquiao.

Pacquiao dikalahkan dengan angka pada pertarungan pertama mereka juga di MGM Grand 9 Juni 2012. Waktu itu juri atau wasit hakim Duane Ford memberikan angka 113-115, C.J. Ross 113-115, Jerry Roth 115-113 untuk kemenangan Bradley. Kemenangan itu dianggap kontroversial oleh banyak pengamat tinju dunia.

Bradley merasa kesal dan sampai mau mengakhiri hidupnya karena dia tak ingin menang kalau kemenangannya itu pemberian para wasit hakim. Sebab itulah Bradley setuju diadakan tarung ulang kali ini untuk membuktian siapa sebetulnya yang pantas menjadi pemenang.

Pertarungan yang dipimpin wasit Kenny Bayless kali ini memperebutkan sabukl juara dunia kelas welter World Boxing Organization (WBO) atau Organisasi Tinju Dunia. Wasit tinju profesional asal Nevada ini berpengalaman memimpin pertandingan petinju-petinju terbaik dunia, misalnya, Oscar de la Hoya, Floyd Mayweather, Shane Mosley, Juan Manuel Marquez, dan Pacquiao.

“Benarkah (waktu itu) saya mau bunuh diri? Betul,” kata Bradley. Saya berpikir tidak ingin bertinju lagi, dan bahkan tak mau hidup lagi (karena merasa dibohongi pada juri).”

Mundur Dari Tinju Chris John Akan Jadi Promotor

Mantan juara dunia kelas bulu (57,1 kilogram) WBA Chris John berkeinginan menjadi promotor setelah memutuskan untuk mundur sebagai petinju. Chris John ketika dihubungi dari Semarang, Jumat, mengatakan, meskipun dirinya sudah tidak sebagai petinju tetapi dirinya tetap akan menggeluti cabang olahraga yang telah membesarkan dirinya yaitu sebagai promotor.

“Memang setelah saya mengundurkan diri sebagai petinju belum ada rencana untuk ke depannya tetapi ada keinginan saya untuk tetap menggeluti dunia tinju dengan bertindak sebagai promotor,” kata Chris John yang sudah 10 tahun memegang gelar juara dunia tersebut. Ketika ditanya apakah ada persyaratan khusus untuk menjadi seorang promotor tinju, Chris John yang dijuluki The Dragon tersebut mengatakan, tidak ada syarat khusus. “Saya kira tidak ada syarat khusus untuk menjadi promotor,” katanya.

Tetapi, lanjut suami mantan atlet wushu Jateng Ana Maria Megawati tersebut, dirinya akan belajar dulu dengan manajemen untuk bagaimana menjadi seorang promotor karena merekalah yang memiliki pengalaman untuk itu. Seperti diketahui, pada Kamis (19/12) di Jakarta, Chris John mengumumkan pengunduran diri sebagai petinju setelah gagal mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu WBA karena kalah TKO pada awal ronde ketujuh (pada ronde ketujuh tidak melanjutkan pertarungan lagi) saat melawan petinju Afrika Selatan Simiwe Vetyeka di Australia, 6 Desember 2013.

Alasan pengunduruan diri tersebut, menurut dia, berdasarkan pertarungan tersebut dirinya merasakan bahwa fisiknya sudah mulai menurun. “Mungkin karena faktor usia juga,” kata ayah dua orang putri (Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani) tersebut. Chris John kelahiran Jakarta, 14 September 1979 kini usianya memasuki 34 tahun dan memegang gelar juara dunia pada usia 24 tahun setelah mengalahkan petinju Kolombia Oscar Leon melalui pertarungan ad-interim di Bali, 26 September 2003.

Setelah itu Chris John berhasil mempertahankan gelarnya sebanyak 18 kali termasuk di dalamnya lima kali melalui pertarungan wajib dan tiga kali pertarungan yang berakhir dengan hasil imbang atau seri. Pertarungan dengan hasil imbang atau seri tersebut saat menghadapi Jose Cheo Rojas (Venezuela), Rocky Juarez (Amerika Serikat), dan Satoshi Hosono (Jepang), sedangkan lima kali pertarungan wajib yaitu saat mengalahkan Jose Cheo Rojas, Derrick Gainner (Amerika Serikat), Roinet Caballero (Panama), Juan Manuel Marquez (Meksiko), dan Hiroyuki Enoki (Jepang).

Bahkan setelah menang lawan petinju Jepang Hiroyuki Enoki, 24 Oktober 2008, Chris John berhasil mendapatkan gelar Super Champion karena mampu mempertahankan gelar sebanyak 10 kali tanpa putus. Sampai akhir kiprahnya sebagai petinju Chris John miliki rekor bertarung 48 kali menang (22 di antaranya dengan KO), tiga kali seri, dan sekali kalah.Mantan juara dunia kelas bulu (57,1 kilogram) WBA, Chris John, tetap menjalin hubungan pertemanan dengan Sasana Herrys Gym di Perth, Australia, meskipun memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai petinju.

Chris John, yang memiliki rekor bertarung 48 kali menang (22 di antaranya dengan KO), tiga kali seri, dan sekali kalah, ketika dihubungi di Semarang, Jumat, mengatakan bahwa tidak ada masalah hubungan dengan Herrys Gym yang dipimpin Craig Christian. “Kita tetap berteman, dan sewaktu-waktu kita bisa menjalin kerja sama untuk urusan tinju nantinya,” kata Chris John yang 10 tahun lebih memegang gelar juara dunia kelas bulu WBA.

Chris John, yang berjulukan The Dragon (sang naga), memutuskan mengundurkan diri dari tinju pada Kamis (19/12) di Jakarta. Sebelumnya, Chris John gagal mempertahankan gelar juara dunianya yang ke-19 setelah kalah technical knock out (TKO) awal ronde ketujuh dari petinju Afrika Selatan, Simpiwe Vetyeka, di Australia, 6 Desember 2013.

Suami mantan atlet wushu Jawa Tengah, Anna Maria Megawati, tersebut bergabung dengan Sasana Herrys Gym di Perth, Australia, pada awal 2005 di bawah asuhan pelatih Craig Christian yang sekaligus manajernya. Selama bergabung dengan Sasana Herrys Gym, ayah dua orang putri (Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani) tersebut sudah 16 kali mempertahankan gelar juara dunianya.

Ia pertama kali mempertahankan gelar mengalahkan Derrick Gainner (Amerika Serikat) di Jakarta, 22 April 2005, kemudian mengalahkan Tommy Browne (Australia) di Australia, 7 Agustus 2005. Chris menang atas Juan Manuel Marquez (Meksiko) di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 4 Maret 2006, mengalahkan Renan Acosta (Panama) di Jakarta, 9 September 2006, dan menang atas Jose Cheo Rojaz (Venezuela) di Jakarta, 3 Maret 2007.

Selanjutnya, ia mengalahkan Zaiki Takemoto (Jepang) di Kobe, Jepang, 19 Agustus 2007, dan menjungkalkan Roinet Caballero (Panama) di Jakarta, 26 Januari 2008, serta meredam Hiroyuki Enoki (Jepang) di Tokyo, Jepang, 24 Oktober 2008. Chris sempat bermain imbang melawan Rocky Juarez (Amerika Serikat) di Texas, Amerika Serikat, 28 Februari 2009, kemudian melibas Rocky Juarez dalam tanding ulang di Las Vegas (AS) pada 19 September 2009.

Setelah itu, ia menang atas Fernando David Saucedo (Amerika Serikat) di Jakarta, 5 Desember 2010, kemudian mengalahkan Daud Yordan (Indonesia) di Jakarta, 17 April 2011. Stanyslav Merdov (Ukraina) di Australia pada 30 November 2011 merasakan kehebatan Chris John, yang kemudian Chris mengalahkan Shoji Kimora (Jepang) di Singapura, 5 Mei 2012, memupus harapan Chonlatarm Piriyapinyo (Thailand) di Singapura, 9 November 2012.

Chris sempat main imbang melawan petinju Jepang, Satoshi Hosono, di Jakarta, 14 April 2013. Ia merebut gelar juara dunia kelas bulu WBA setelah mengalahkan petinju Kolombia, Oscar Leon, melalui pertarungan ad-interim di Bali, 26 September 2003. Setelah juara dunia, Chis John dua kali mempertahankan gelar dengan melawan Osamu Sato (Jepang) di Bali, 4 Juni 2004, dan Jose Cheo Rojas di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 3 Desember 2004. Saat itu dirinya masih bergabung dengan sasana pimpinan manyan petinju nasional, Sutan Rambing.

Petinju Indonesia Chris John akhirnya memutuskan untuk mundur dari dunia tinju setelah gagal mempertahankan gelar saat kalah dari petinju Afrika Selatan Simpiwe Vetyeka di Australia, awal Desember 2013.Petinju dengan rekor bertarung 48 kali menang (22 di antaranya dengan KO), tiga kali seri, dan sekali kalah, ketika dihubungi dari Semarang, Kamis, mengatakan dari pertandingan terakhir (melawan Simpiwe Vetyeka) dirinya merasa fisiknya sudah menurun.

“Dari pertarungan terakhir, saya merasa fisik saya sudah mulai menurun dan mungkin juga faktor usia,” kata ayah dari Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani tersebut. Menurut petinju kelahiran Jakarta, 14 September 1979 tersebut, seperti yang diutarakan sebelumnya bahwa dirinya akan pensiun pada usia 35-an tahun. “Saat ini saatnya saya untuk mundur,” katanya.

Ketika ditanya apakah langkah untuk mundur ini sudah dikonsultasikan dengan pelatih Craig Christian, suami mantan atlet wushu Jateng Ana Maria Megawati tersebut mengatakan, sudah dan yang bersangkutan mendukung keputusan dirinya karena kondisi badan dia yang tahu adalah dirinya sendiri.”Saya sudah konsultasi dengan Craig Christian dan pelatih juga mendukung semua keputusanku karena kondisi badanku yang yang tahu ya saya sendiri,” katanya menegaskan.

Menyinggung rencana ke depan, petinju asal Kabupaten Banjarnegara, Jateng, tersebut mengatakan, sampai kini belum ada rencana apa-apa. “Nanti saya dan manajemen akan bicara lebih lanjut,” katanya. Chris John menjadi juara dunia kelas bulu (57,1 kilogram) setelah mengalahkan petinju Kolombia Oscar Leon melalui pertarungan ad-interim di Bali, 26 September 2003.

Setelah itu Chris John berhasil mempertahankan gelarnya sebanyak 18 kali. Dari 18 kali mempertahankan gelar tersebut, lima di antaranya melalui pertarungan wajib atau “mandatory fight” yaitu melawan Jose Cheo Rojas (Venezuela), Derrick Gainner (Amerika Serikat), Juan Manuel Marquez (Meksiko), Roinet Caballero (Panama), Hiroyuki Enoki (Jepang).

Bahkan, usai mengalahkan Hiroyuki Enoki di Jepang, 24 Oktober 2008, Chris John berhak menyandang gelar Super Champions kelas bulu WBA karena berhasil mempertahankan gelar sebanyak 10 kali tanpa putus. Kemudian, sisanya (15 kali) mempertahankan gelar melalui pertarungan pilihan atau “choice” termasuk tiga kali seri yaitu melawan Jose Cheo Rojas (Venezuela), Rocky Juarez (Amerika Serikat), dan Satoshi Hosono (Jepang).

Pertarungan pilihan yang dijalani Chris John adalah saat mengalahkan Osamu Sato (Jepang), Tommy Brouwn (Australia), Renant Acosta (Panama), Zaiki Takemoto (Jepang), Fernando David Saucedo (Argentina), Daud Yordan (Indonesia), Stanyslav Merdov (Ukraina), Shoji Kimora (Jepang), dan Chonlatarm Piriyapinyo (Thailand).

Pada pertarungan terakhir di Metro City, Perth, Australia Barat, Australia, 6 Desember 2013, Chris John gagal mempertahankan gelarnya setelah kalah TKO ronde keenam (tidak melanjutkan pertarungan pada ronde ketujuh).

Daud Jordan Akan Pertahan Gelar Di China

Juara dunia kelas ringan (61,2 kilogram) Daud Yordan bakal mempertahankan gelar yang kedua kalinya di China pada 28 Maret 2014. “Saya memang mendapat pemberitahuan dari manajemen bahwa pertarungan saya mendatang dilaksanakan di China pada 28 Maret 2014,” kata petinju dengan rekor bertarung 32 kali menang (23 di antaranya dengan KO) dan tiga kali kalah ketika dihubungi dari Semarang, Minggu.

Menurut dia, tetapi sampai kini dirinya masih menunggu kepastian dari manajemen soal lawan yang akan dihadapi dan apakah masih akan menjalani latihan di Sasana Herrys Gym di Perth, Australia, seperti yang dilakukan dalam beberapa kali pertandingan terakhir ini.

“Yang jelas saya masih menunggu kepastian semaunya dari manajemen sambil memprsiapkan diri menjalani latihan di sini,” kata petinju Sasana Katong Utara Kalimantan Barat tersebut. Ketika ditanya latihan yang dijalani di Sasana Kayong Utara tersebut, petinju kelahiran Sukadana, Kalimantan Barat, 10 Juni 1987 tersebut mengatakan, latihan yang dijalani selama ini sudah mengarah kepada latihan teknik dengan melakukan latih tanding dengan petinju lokal.

“Latihan yang saya jalani sekarang ini sudah mengarah kepada teknik yaitu dengan sparring partner melawan petinju lokal,” kata petinju yang terakhir kali mempertahankan gelar saat menang atas petinju Afrika Selatan Sipho Taliwe di Australia, 6 Desember 2013.

Daud Yordan berhasil mempertahankan gelar di kelas ringan setelah menang dengan susah payah atas petinju Afrika Selatan Shipo Taliwe di Australia, 6 Desember 2013. Pertarungan itu merupakan pertama kali bagi Daud untuk mempertahankan gelar juara dunia setelah merebut gelar saat mengalahkan petinju Argentina Daniel Eduardo Brizuela juga di Australia pada 6 Juli 2013.

Sebelumnya Daud Yordan berkecimpung di kelas bulu (57,1 kilogram) selama delapan tahun bahkan sempat menjadi juara dunia IBO di kelas tersebut dengan menang KO ronde kedua atas petinju Filipine Lorenzo Villanueva di Singapura pada 5 Mei 2012. Akhirnya, ayah dari Miquel Angel Yordan Jr tersebut, memutuskan untuk naik dua tingkat dari kelas bulu ke kelas ringan dan pertama kali bertarung langsung merebut gelar juara di kelas yang baru.

Setelah bertarung melawan Sipho Taliwe, suami dari Angela Megaria Penuda menjalani masa istirahat dan sempat melatih adiknya, Yohanes Yordan, untuk menghadapi petinju William Rhyek pada laga perbaikan peringkat nasional di kelas welter (63,5 kilogram) di Kalimantan Barat beberapa waktu lalu. Juara dunia kelas ringan (61,2 kilogram) IBO Daud Yordan mulai menjalani latihan setelah pertarungan perebutan gelar melawan petinju Afrika Selatan Shipo Taliwe di Australia beberapa waktu lalu.

Petinju dengan rekor bertarung 32 kali menang (23 di antaranya dengan KO) dan tiga kali kalah tersebut ketika dihubungi dari Semarang, Kamis, mengatakan, sampai kini latihannya masih bersifat umum untuk menjaga kondisi tubuh. “Nanti kalau sudah mendekati pertarungan baru latihan mengarah kepada teknik khusus untuk menghadapi calon lawannya,” kata petinju kelahiran Sukadana Kalimantan Barat, 10 Juni 1987 tersebut.

Daud Yordan berhasil mempertahankan gelar di kelas ringan setelah menang dengan susah payah atas petinju Afrika Selatan Shipo Taliwe di Australia, 6 Desember 2013. Pertarungan itu merupakan pertama kali bagi Daud untuk mempertahankan gelar juara dunia setelah merebut gelar saat mengalahkan petinju Argentina Daniel Eduardo Brizuela juga di Australia, 6 Juli 2013.

Setelah bertarung melawan petinju Afrika Selatan Sipho Taliwe tersebut, Daud Yordan menjalani masa istirahat dan sempat melatih adiknya Yohanes Yordan untuk menghadapi petinju William Rhyek untuk perbaikan peringkat nasional di kelas welter (63,5 kilogram) di Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.

Menyinggung soal rencana pertarungan mendatang, suami dari Angela Megaria Penuda tersebut mengatakan, memang sudah ada informasi soal pertarungan dirinya mendatang tetapi belum ada kepastian. “Berdasarkan informasi yang saya terima, saya akan naik ring kembali pada akhir Maret mendatang. Tetapi untuk kepastiannya nanti tunggu saja perkembangan selanjutnya,” katanya menegaskan.

Apakah pertarungan mendatang dimainkan di dalam atau luar negeri, dia mengatakan, kemungkinan besar masih di luar negeri. “Yang jelas pada pertarungan mendatang saya masih ingin mempertahankan gelar yang kedua kalinya,” katanya.

Tragedi Rusuh Pertandingan Tinju Nabire Tewaskan 17 Orang

Kepolisian RI telah memeriksa 16 warga Nabire, Papua, sebagai saksi tragedi pertandingan Tinju Bupati Cup 2013 yang menyebabkan 17 orang meninggal.

“Sampai hari ini kami sudah memeriksa sebanyak 16 orang saksi. Untuk sementara kami masih akan melakukan analisis apakah ada tindak pidana atau tidak dalam kasus ini,” kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Agus Rianto, di Jakarta, Rabu (17/7/2013).

Agus mengatakan, dari 17 korban meninggal dunia, sebanyak 15 orang di antaranya telah dikebumikan oleh keluarga masing-masing. Sementara dua orang lainnya masih menunggu kedatangan keluarga.

“Keduanya atas nama Yosina Waiene dan Tresia Waiene, (warga) di Distrik Kamu Selatan,” katanya.

Dirinya menambahkan, dari 22 korban luka-luka yang dirawat di RSUD Nabire, saat ini tersisa delapan yang masih menjalani perawatan. Sementara dua orang yang kritis telah diterbangkan ke Jayapura sejak Selasa (16/7/2013) kemarin.

“Kedua orang itu yaitu Rena Laso (35) di RS Martin Indei dan Makaria Tekege (9) di RS Bhayangkara Jayapura,” imbuhnya.

Agus mengatakan, setelah insiden itu, situasi keamanan di Nabire kondusif. Hal itu tidak terlepas dari peran serta aparat kepolisian dalam mengamankan kondisi di lapangan, termasuk juga menjaga mendatangi keluarga korban.

Forum Kemanusiaan Tragedi GOR Nabire (FKTGN) mengadukan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Timur Pradopo ke Komnas HAM, Rabu (17/7/2013), terkait tragedi pertandingan tinju di Nabire. Koordinator FKTGN Elias Ramos mengatakan, Kapolri dan Menko Polhukam telah melakukan pembohongan publik mengenai jumlah aparat yang dikerahkan di lokasi saat pertandingan berlangsung.

“Mereka mengatakan untuk mengawasi jalannya pertandingan itu, Polri menurunkan 100 personel tentara Angkatan Darat, 200 personel aparat kepolisian, 100 personel Brimob, dan dari Dalmas Polres Nabire 100 orang, itu tidak benar. Aparat baru hadir setelah korban berjatuhan,” ujar Elias.

Menurut Elias, faktanya hanya terdapat empat personel TNI dan empat orang Satpol PP yang berada di sekitar empat sudut ring tinju pada saat pertandingan. Ia melanjutkan, polisi memang mengawasi berlangsungnya pertandingan dengan menurunkan banyak personel pada pertandingan di tanggal 8-13 Juli, tetapi tidak demikian pada tanggal 14 Juli.

“Dari Kapolri, Menko Polhukam, dan Polda Papua, alasan mereka ada aparat, tapi massa terlalu banyak sehingga tidak mampu mengendalikan konflik yang terjadi, padahal memang tidak ada yang mengawasi pertandingan itu,” ujar Elias.

Elias melanjutkan, keluarga korban turut menyesalkan kelalaian aparat kepolisian karena biasanya sekecil apa pun acara di Nabire selalu dijaga ketat oleh petugas. Namun, pada malam final tinju yang dihadiri Bupati Kabupaten Nabire bersama istrinya itu, tidak terlihat petugas kepolisian yang berjaga.

“Kami juga meminta Kapolri dan Menko Polhukam untuk meminta maaf kepada keluarga korban dan seluruh rakyat Papua atas pembohongan karena ternyata (pernyataan) mereka tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan,” tandasnya kemudian.Forum Kemanusiaan Tragedi GOR Nabire (FKTGN) mengatakan bahwa Bupati Nabire Isaias Douw, Kapolres Nabire AKBP Bahara Marpaung, serta panitia Tinju Bupati Cup 2013 lalai dalam memastikan keamanan jalannya pertandingan tinju antara Alvius Rumkorem dan Yulius Pigome di Gedung Olahraga Kota Lama, Nabire, Minggu (14/7/2013).

Koordinator FKTGN Elias Ramos mengatakan, Isaias, yang berada di GOR Kota Lama ketika pertandingan berlangsung, memperbolehkan warga yang tak memiliki tiket untuk masuk ke tempat acara. Akibatnya, sebanyak 2.000 penonton memadati GOR Kota Lama yang hanya mampu menampung 900 orang. Pertandingan berakhir ricuh, dan 18 orang tewas terinjak-injak.

Tak hanya itu, Bupati Isaias juga tak memerintahkan kepolisian untuk segera menambah jumlah personel untuk mengamankan jalannya pertandingan.

“Sementara itu, kelalaian Kapolres Nabire adalah memberikan izin keramaian, tetapi belum mampu menjaga dan mengawasi jalannya pertandingan,” kata Elias.

Selanjutnya, Elias juga mengatakan, panitia tak antisipatif atas membeludaknya penonton pertandingan tinju yang dimenangkan Alvius tersebut.

“Kami meminta hasil investigasi dipublikasikan secara umum. Jika ada indikasi kelalaian dari aparat, maka kami meminta (Kapolri) mencopot Kapolda Papua (Irjen Tito Karnavian) dan Kapolres Nabire. Mereka telah lalai menjalankan tugas,” ujar Elias ketika mengadu ke Komnas HAM, Jakarta, Selasa (17/7/2013).

Elias dan tujuh anggota FKTGN diterima oleh Ketua Bidang Pemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran HAM Natalius Pigai.

Sebelumnya, Komnas HAM menyatakan insiden tersebut sebagai tragedi kemanusiaan pertama dalam pertandingan tinju di Tanah Air. Komnas HAM akan melakukan pemantauan dan penyelidikan atas peristiwa tersebut.

Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menuntut pertanggungjawaban Kapolda Papua dan Kapolres Nabire atas kerusuhan tersebut. IPW meminta Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo mencopot keduanya.
“Kapolri harus mengevaluasi dan mencopot Kapolda dan Kapolres,” kata Tito.

Kapolda Papua Irjen (Pol) Tito Karnavian menegaskan, tragedi GOR Nabire yang menewaskan 17 orang bukan akibat kerusuhan, melainkan karena ketakutan para penonton hingga berupaya keluar dengan berdesakan.

“Mereka tewas bukan karena dianiaya, melainkan terimpit dan terinjak-injak saat hendak keluar dari GOR,” tegas Kapolda Papua, menjawab pertanyaan Antara melalui telepon selulernya di Jayapura, Selasa (16/7/2013).

Irjen (Pol) Tito Karnavian mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara, terungkap kasus yang menewaskan belasan orang itu akibat berdesakan di pintu utama sehingga terimpit dan terinjak-injak, sementara penonton lainnya yang berada di dalam gedung tidak mengalami cedera. Selain karena berdesakan saat hendak keluar GOR Nabire, kapasitas gedung juga tidak mampu menampung jumlah penonton yang diperkirakan hanya sekitar 500 orang.

“Saat insiden terjadi, sekitar 1.500 orang memadati GOR yang berlokasi di Kota Lama Nabire sehingga memang sudah tidak memadai hingga para korban selain mengalami luka-luka juga sesak napas,” kata Kapolda Papua yang saat ini masih berada di Nabire.

Menurut dia, dari laporan sementara, terungkap juga faktor membeludaknya penonton karena saat Bupati Nabire Izaias Douw masuk GOR, masyarakat yang berada di luar GOR meminta untuk diperbolehkan masuk sehingga Bupati Nabire kemudian mengizinkan masyarakat masuk tanpa membeli karcis. Kebijakan itu, menurut Tito, mengakibatkan masyarakat berduyun-duyun memasuki GOR hingga melebihi daya tampung.

Menurut Kapolda, seusai final antara Yulianus Pigome melawan Alfius Rumkorem yang dimenangkan Alfius, para pendukung Pigome tidak terima dengan hasil tersebut sehingga terjadi keributan dan saling lempar, seperti melempar kursi dan botol air minum.

“Kalau akibat lemparan, baik kursi maupun botol air, tidak akan separah itu,” ungkap Kapolda Papua. Ditambahkan, dari 17 korban yang meninggal, tiga di antaranya sudah dimakamkan dan diharapkan korban yang belum dimakamkan segera dimakamkan. Sementara itu, yang dirawat di RSUD Nabire saat ini tercatat 20 orang.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan melakukan pemantauan dan penyelidikan atas peristiwa kematian 18 warga Nabire, Papua, saat menonton pertandingan Tinju Bupati Cup, Minggu (14/7/2013).

Ketua Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran HAM Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan, timnya akan terjun langsung ke Nabire untuk memeriksa pihak-pihak terkait, termasuk Bupati Nabire Isaias Douw dan penyelenggara kejuaraan.

“Komnas HAM memutuskan untuk melakukan pemantauan dan penyelidikan atas kasus ini. Tim Komnas HAM akan turun ke Nabire untuk meminta keterangan dari pihak-pihak terkait,” ujar Natalius, melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2013).

Ia mengatakan, timnya akan terjun langsung ke Nabire, Kamis (18/7/2013). Di sana, kata dia, selain meminta keterangan Bupati, tim akan memeriksa panitia penyelenggara, pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia Nabire (Pertina Nabire), pemilik Sasana Mawa dan Sasana Persada, kepolisian, dan keluarga korban.

“Dan keterangan dari masyarakat atau penonton,” lanjutnya.

Natalius mengatakan, tim tersebut akan diketuainya dan terdiri dari Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM Nurkholis serta beberapa staf penyidik.

Dalam catatan Komnas HAM, peristiwa itu merupakan tragedi kemanusiaan yang pertama dalam gelaran olahraga tinju di Indonesia.

“Yang merenggut nyawa manusia terbanyak,” katanya.

Ia meminta, semua elemen terkait olahraga termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga, para pengurus asosiasi olahraga, pemerintah daerah, bahkan kepolisian untuk mengevaluasi kejadian tersebut. Natalius juga meminta para pihak melakukan tindakan-tindakan preventif agar penyelenggaraan olahraga tetap dapat menjadi ajang hiburan yang tidak tercoreng tragedi kemanusiaan.

Komnas HAM, kata Natalius, belum sampai pada dugaan keterkaitan peristiwa itu dengan penyelenggaraan pilkada.

Insiden itu berawal dari final kejuaraan tinju amatir Bupati Cup antara Alvius Rumkorem dari Sasana Persada melawan Yulianus Pigome dari Sasana Mawa, Minggu. Alvius menang angka dalam pertandingan yang berlangsung di GOR Kota Lama Nabire itu. Kemenangan Alvius menuai protes. Para suporter kemudian saling ejek dan lempar kursi. Sekitar 1.000 penonton yang menjejali lokasi pun berebut untuk berusaha keluar. Sebanyak 18 orang tewas akibat peristiwa itu.

Pasca ricuh antarsuporter Kejuaraan Tinju Amatir Bupati Cup di GOR Kota Lama Nabire, Papua, aparat kepolisian melakukan penjagaan di kantor pemerintahan Nabire. Penjagaan di sekitar lokasi melibatkan 500 anggota Polres setempat dan Polda Papua. Polri juga dibantu TNI yang mengerahkan 500 anggotanya.

“Dikirim ke lokasi untuk mengamankan rumah sakit, kantor-kantor pemerintah dan wilayah yang perlu dilakukan pengamanan oleh petugas. Polri dan TNI bersinergi,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (15/7/2013).

Ronny mengatakan, pasca kejadian itu, Kapolda Papua Inspektur Jenderal Tito Karnavian langsung berkoordinasi dengan Pangdam, Gubernur, dan pimpinan daerah setempat. Adapun, penyebab bentrok saat ini masih didalami.

“Sementara sedang didalami apakah pemicu keributan itu karena kekalahan atau ada hal-hal lain. Kami serahkan sepenuhnya kepada tim penyidik Polres Nabire yang di-back up langsung oleh Polda Papua,” kata Ronny.

Bentrok terjadi antarpendukung pertandingan tinju di GOR Kota Lama Nabire, Papua, sekitar pukul 23.00, Minggu (14/7/2013). Bupati Kabupaten Nabire Isaias Douw turut hadir dalam pertandingan itu.

Keributan itu berawal saat pendukung Yulius Pigome dari Sasana Mawa mengamuk karena Yulius kalah bertanding dengan Alvius Rumkorem dari sasana Persada. Adapula yang melempar kursi pada saat itu. Saat terjadi keributan, para penonton panik dan saling dorong untuk berusaha keluar dari GOR.

Saat peristiwa itu, GOR dipadati sekitar 1500 orang. Jumlah tersebut melebihi kapasitas GOR seharusnya yakni 800 sampai 900 orang. Data sementara, 17 orang tewas yang terdiri dari 5 laki-laki dan 12 perempuan. Sementara itu, 12 saksi masih diperiksa terdiri dari 5 anggota panitia penyelenggara tinju dan 7 saksi merupakan masyarakat atau penonton.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga era Orde Baru Hayono Isman menilai, pihak penyelenggara harus bertanggung jawab atas tewasnya 17 orang dalam pertandingan tinju amatir di Gelanggang Olahraga (GOR) Kota Lama Nabire, Papua, Minggu (14/7/2013). Menurutnya, musibah itu seharusnya tak terjadi bila mengikuti aturan yang berlaku.

“Jadi, tanggung jawab penyelenggara menyangkut tidak hanya keselamatan petinju, tetapi juga penonton,” kata Hayono di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (15/7/2013).

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat ini juga menyoroti pemberian izin pada pertandingan tersebut. Ia mencurigai adanya izin dalam pertandingan yang digelar di GOR yang hanya memiliki satu pintu keluar.

“Izin diberikan pasti ada persyaratannya, tidak hanya lisensi, tapi tempat penyelenggaraan pantas atau tidak karena tidak lazim kejuaraan tinju yang meninggal penonton,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, bentrok terjadi antara pendukung tinju di GOR Kota Lama Nabire, Papua, Minggu (14/7/2013) jelang tengah malam. Akibatnya, sebanyak 17 orang tewas.

“Saat terjadi keributan, para penonton saling dorong dan saling injak sesama penonton. Tewas 17 orang. Ada lima laki-laki dan 12 perempuan,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar I Gede Sumerta saat dihubungi, Minggu malam.

Insiden terjadi sekitar pukul 23.00 WIT. Gede menjelaskan, massa di GOR saat itu sekitar 1.500 orang, sementara daya tampungnya hanya sekitar 900 orang. Malam itu ada pertandingan antara Yulius Pigome dari Sasana Mawa melawan Alvius Rumkorem dari Sasana Persada. Insiden terjadi akibat pendukung Yulius mengamuk setelah kalah dalam pertandingan.