Catatan Penutup Dari Grand Slam Tenis Amerika Terbuka

Hari Senin ini, arena Flushing Meadows yang bising di jantung Kota New York kembali menggeliat saat turnamen Grand Slam AS Terbuka dimulai pada babak utama. Sebagai grand slam penutup, AS Terbuka, turnamen yang sudah berusia 122 tahun, tak pernah kehilangan pesona karena selalu menyuguhkan drama dalam laga-laga epiknya.

New York pulalah yang menjadi harapan terbesar bagi Andy Murray untuk mengakhiri penantian panjang, 74 tahun, rakyat Inggris Raya akan gelar grand slam. Pada usia ke-23 tahun, Murray sungguh tak bisa menunggu lebih lama untuk masuk dalam jajaran elite grandslamer setelah sebelumnya dua kali sukses menembus final. Pertama di arena ini pada 2008 dan kedua di Melbourne Januari lalu, yang sayangnya pada dua kesempatan itu mimpi Murray dibuyarkan Roger Federer.

Kekalahan di Melbourne adalah momen terpahit sepanjang kariernya. Saat itu, hampir semua orang yakin Murray mampu mencetak sejarah karena dia tampil brilian sejak babak pertama. Namun, Federer bahkan sudah menyatakan, Inggris Raya harus menunggu 150 tahun lagi untuk kembali mempunyai grandslamer. Gertakan Federer membuat Murray kehilangan kepercayaan diri dan menyerah mudah tiga set langsung.

Kekalahan menyakitkan di Rod Laver Arena tampaknya memukul kondisi psikologis Murray yang baru kembali ke irama terbaik dalam tujuh bulan. Murray melangkah ke semifinal Wimbledon dan bekerja ekstra keras meningkatkan staminanya sebelum tampil di US Open Series. Latihan spartan Murray membuahkan hasil di Toronto dengan merebut gelarnya yang ke-15. Bahkan dalam perjalanannya, petenis kelahiran Glasgow, 15 Mei 1987, itu menggulung dua unggulan utama, Rafael Nadal dan Federer.

Meski kemudian gagal menampilkan permainan terbaiknya di Cincinnati, Murray yakin selangkah lagi mimpinya terwujud di Flushing Meadows. ”Mental dan fisik saya siap merebut gelar,” ujar Murray yang menjadi juara yunior di AS pada 2004.

Dibandingkan permukaan Rod Laver Arena yang sama-sama hard court, tipikal Flushing Meadows sedikit lebih cepat. Kebugaran yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir membuat Murray jauh merasa nyaman di lapangan ini. Dengan kemungkinan jumpa Nadal di semifinal, satu-satunya hambatan baginya adalah soal mental menghadapi petenis elite di peringkat tiga besar. Namun setelah secara beruntun menggulung Nadal dan Federer di Toronto, sulit untuk membayangkan Murray tidak mengangkat piala tahun ini di Flushing Meadows.

Absennya juara 2009, Juan Martin del Potro, akibat cedera pergelangan tangan membuat persaingan di tunggal putra mengerucut. Dari Del Potro pula Murray seharusnya memetik pelajaran. Tahun lalu, petenis Argentina itu ketinggalan set 1-2 melawan Federer di final. Del Potro lalu bermain agresif, menyerang ke net dan memaksakan diri melepaskan pukulan- pukulan forehand-nya yang menggelegar. Federer terjungkal ketika semua orang mengira maestro asal Swiss itu akan merebut gelarnya yang keenam di Meadows. Murray melakukan hal yang sama di Toronto dan tinggal selangkah lagi menjadi grandslamer. Jika tidak, Inggris Raya benar-benar harus menunggu 150 tahun lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s