Eto’o Terbaik di Benua Afrika

Tonggak baru bagi striker Inter Milan asal Kamerun, Samuel Eto’o, di jagat sepak bola Afrika setelah menggaet predikat Pemain Terbaik tahun ini di Benua Afrika untuk keempat kalinya, Senin (20/12). Namun, titel itu justru membikin pemain legam ini merasa kurang nyaman.

Striker berusia 29 tahun ini menggaet predikat yang menandai keberhasilan klub, yang belum pernah ada selama ini. Berpijak pada poling, Eto’o menyingkirkan rival abadinya, Didier Drogba dari Pantai Gading dan Asamoah Gyan asal Ghana.

Predikat Eto’o ini kini melampaui predikat yang disandang Abedi Pele, yang tiga kali dianugerahi pemain terbaik di awal tahun 90-an. Berbagai penghargaan sudah ia terima. Ia memenangi medali utama lebih banyak, melebihi pemain mana pun di Afrika.

Itulah justru yang membikin Eto’o enggan menerima predikat yang menandainya sebagai pemain terbaik yang pernah ada.

”Rasanya tidak mungkin. Memenangi titel Pemain Terbaik selama empat kali ini berarti membikin rekor baru. Namun, saya pikir, saya tidak punya hak untuk mengatakan bahwa sayalah yang terbaik,” kata Eto’o di Kairo seusai menerima penghargaan.

Menurut Eto’o, ada banyak pemain terbaik pada generasi sebelumnya. Mereka menghadapi tantangan dan situasi berbeda dengan generasinya. ”Kita sungguh tidak bisa membandingkan masa,” sambungnya.

Bagi Eto’o, saat ini ada banyak pemain muda yang sedang memanjat tangga menuju kesuksesan. ”Mereka ada di belakang saya dan ada yang datang dengan sangat cepat. Siapa yang bisa bilang saya yang terbaik?” tuturnya.

Namun, ada banyak alasan soal pencapaian Eto’o, yang belum bisa dilampaui pemain sepak bola top lainnya di Afrika. Di level internasional, Eto’o pernah bertanding di tiga kali final Piala Dunia. Ia juga mengomandoi timnas negaranya pada turnamen tahun ini di Afrika Selatan.

Eto’o pernah memenangi Piala Afrika dua kali. Sebanyak 18 gol di final berbagai turnamen pernah ia cetak. Itu adalah rekor yang sangat sulit dicapai. Masih ingat, ia juga meraih emas Olimpiade tahun 2000.

Di tataran klub, Eto’o juga unggul. Setelah hijrah ke Spanyol ketika masih usia belasan tahun, ia mampu beradaptasi dengan suasana baru. Ia bekerja keras menerpa segala kesulitan. Ia mampu melawan rasisme dan membuktikan diri menjadi salah seorang striker terbaik di Eropa. Kecepatannya serta kemampuannya mengeksekusi bola belumlah tertandingi.

Bersama Barcelona, Eto’o memenangi dua kali Liga Champions UEFA. Ia membikin skor pada final tahun 2006 dan 2009. Bersama Inter Milan, ia memenangi final pada Mei 2010. Semua itu membikin Eto’o layak meraih gelar pemain terbaik selama empat kali.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s